Ingatan Usang Membangun Informasi Kredibel

Penulis: Edy Purnomo

blokTuban.com - Narti, 52 tahun, menatap layar ponselnya dengan serius. Kepalanya masih bersandar pada bantal, bahkan selimut masih menutupi sebagian kakinya. Sinar matahari pagi sudah menerobos jendela kamar sejak pukul 05.45, tetapi jendela itu belum juga ia buka meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00.

Sudah lebih dari satu jam Narti menggulir layar ponselnya sejak bangun tidur. Berganti dari satu unggahan ke unggahan lain. Dari video pendek, kabar selebritas, hingga potongan berita yang muncul tanpa henti. Teriakan tukang sayur yang lewat di depan rumah akhirnya memaksanya bangkit dari tempat tidur. Namun ponsel tetap tidak lepas dari tangannya.

“Dunia ini semakin aneh saja. Tadi saya lihat berita ada hantu yang bergentayangan dari satu rumah ke rumah lain,” katanya saat mendekati tukang sayur.

Belanja yang seharusnya selesai dalam waktu sepuluh menit berubah menjadi obrolan panjang selama lebih dari satu jam. Masing-masing membawa kabar yang mereka dapatkan dari “media” versi mereka sendiri. Ada yang berasal dari grup WhatsApp, ada yang berasal dari akun TikTok, ada pula yang baru saja melihat unggahan di Facebook atau Instagram.

B-E-R-I-T-A yang mereka maksud tentu berbeda dengan pemahaman berita pada masa ketika informasi harus melalui proses panjang sebelum sampai ke tangan pembaca. Dahulu ada rantai produksi yang jelas: reporter mencari fakta, editor memverifikasi informasi, lalu media menerbitkannya dengan mempertaruhkan reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun.

Kini berita hadir hanya sejauh satu sentuhan jari. Semudah ketika Narti bangun tidur dan membuka layar ponselnya.

Se-Kredibel Apa Berita yang Kamu Konsumsi?

Pertanyaan ini mungkin terdengar membosankan. Hampir satu dekade terakhir kita terus-menerus mendengarnya dalam seminar, pelatihan literasi digital, kampanye anti-hoaks, hingga berbagai unggahan media sosial.

Namun justru karena masalahnya belum selesai, pertanyaan itu masih relevan untuk diajukan. Mengapa? Karena cara manusia mendapatkan informasi telah berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan mereka untuk memverifikasi informasi tersebut.

Sumber Berita yang Berubah

Jika dulu sumber berita didominasi media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televisi, sekarang hampir setiap orang dapat menjadi produsen informasi. Seseorang cukup memiliki ponsel, koneksi internet, dan akun media sosial untuk menyampaikan kabar kepada ribuan bahkan jutaan orang. Fenomena ini membawa dua konsekuensi.

Kesatu, demokratisasi informasi. Siapa pun dapat berbicara dan menyampaikan perspektifnya tanpa harus melewati gerbang media besar.

Kedua, hilangnya mekanisme penyaringan informasi yang selama ini menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik.

Generasi milenial dan generasi Z bahkan mulai mengubah cara mereka mencari berita. Banyak yang tidak lagi membuka situs berita secara langsung. Mereka lebih sering menemukan informasi melalui media sosial, rekomendasi algoritma, atau konten para influencer.

Di sinilah peran influencer menjadi sangat besar. Mereka bukan hanya pembuat konten hiburan, tetapi juga menjadi sumber rujukan publik dalam memahami berbagai isu; mulai dari kesehatan, ekonomi, politik, hingga peristiwa sosial.

Masalahnya, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan kompetensi.

Sebagian besar influencer tidak dibekali keterampilan jurnalistik. Mereka tidak terbiasa melakukan verifikasi berlapis, mengecek sumber primer, atau menguji validitas sebuah informasi sebelum menyebarkannya. Yang sering menjadi ukuran adalah kecepatan, viralitas, dan jumlah interaksi.

Akibatnya, informasi yang menarik perhatian sering kali lebih cepat menyebar dibanding informasi yang benar.

Ketika Algoritma Menjadi Editor

Pada masa lalu, editor menentukan berita mana yang layak naik ke halaman utama surat kabar. Hari ini, peran tersebut sebagian besar digantikan oleh algoritma.

Algoritma media sosial bekerja dengan satu tujuan utama: mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Karena itu, konten yang memancing emosi biasanya mendapatkan prioritas lebih tinggi. Kemarahan, ketakutan, keterkejutan, dan sensasi menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk meningkatkan keterlibatan pengguna.

Tidak mengherankan jika berita yang belum tentu benar sering kali terlihat lebih menarik dibanding laporan yang sudah diverifikasi secara mendalam.

Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin banyak pula konten serupa yang akan ditampilkan kepadanya. Lama-kelamaan seseorang dapat hidup dalam ruang gema informasi (echo chamber), yaitu lingkungan digital yang hanya memperkuat keyakinan yang sudah ia miliki sebelumnya.

Dalam kondisi seperti itu, fakta bukan lagi menjadi penentu utama kebenaran. Yang lebih menentukan adalah seberapa sering informasi tersebut muncul di layar.

Ingatan Usang dan Kebiasaan Lama

Ironisnya, banyak orang masih menggunakan pola berpikir lama ketika mengonsumsi informasi baru.

Dahulu, informasi yang berhasil sampai ke ruang publik umumnya telah melewati proses seleksi yang ketat. Karena itu masyarakat terbiasa mempercayai apa yang mereka baca atau tonton.

Kebiasaan itulah yang masih terbawa hingga sekarang. Padahal ekosistem informasi telah berubah total.

Masih banyak orang yang menganggap semua informasi yang muncul di layar ponsel memiliki tingkat kredibilitas yang sama. Mereka lupa bahwa unggahan seorang pengguna anonim, video yang dibuat tanpa sumber jelas, dan laporan media profesional memiliki proses produksi yang sangat berbeda.

Ingatan lama tentang bagaimana informasi bekerja sering kali membuat kita lengah menghadapi realitas digital saat ini.

Membangun Kembali Kredibilitas

Membangun informasi yang kredibel di era digital tidak cukup hanya dengan mengandalkan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berpikir kritis.

Sebelum mempercayai sebuah informasi, ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat diajukan:

  • Siapa yang pertama kali menyampaikan informasi ini?
  • Apakah sumbernya jelas dan dapat diverifikasi?
  • Apakah ada media lain yang melaporkan hal serupa?
  • Kapan informasi tersebut dipublikasikan?
  • Apakah informasi ini didukung data atau hanya opini?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun dampaknya dapat mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan kepada lebih banyak orang.

Kisah Narti bukanlah kisah tentang satu orang. Ia adalah gambaran jutaan pengguna internet yang setiap pagi membuka layar ponsel sebelum membuka jendela rumahnya.

Di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti, tantangan terbesar kita bukan lagi mendapatkan berita. Tantangan sesungguhnya adalah membedakan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang hanya memanfaatkan perhatian kita.

Karena di era digital, informasi tidak lagi langka. Yang langka justru kemampuan untuk menyaringnya.