Beragam Versi Nyi Roro Kidul, Ada juga Bilang Boru Batak
Sumber foto: esensi berita

Beragam Versi Nyi Roro Kidul, Ada juga Bilang Boru Batak.

Reporter: Mukmin

TUBAN, blokTuban.com – Kalau selama ini Nyi Roro Kidul dikenal sebagai penguasa Laut Selatan yang lekat dengan mitologi masyarakat Jawa dan Sunda, sebuah cerita dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, justru menghadirkan versi berbeda. Sang ratu laut disebut-sebut merupakan perempuan keturunan Batak bernama Si Boru Biding Laut.

Klaim tersebut tentu menarik perhatian. Sebab, sosok Nyi Roro Kidul selama ini memiliki tempat tersendiri dalam tradisi dan kebudayaan masyarakat di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

Bahkan, asal-usulnya memiliki beragam versi.

Di Jawa Barat, misalnya, terdapat legenda yang menghubungkan Nyi Roro Kidul dengan Putri Kadita, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Dalam cerita rakyat yang berkembang, Putri Kadita diusir dari istana akibat intrik keluarga. Setelah mengalami berbagai peristiwa, sang putri akhirnya menceburkan diri ke Laut Selatan dan dipercaya menjadi penguasa lautan.

Versi tersebut juga dikenal dalam tradisi masyarakat pesisir selatan Jawa Barat, termasuk kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Sementara itu, di Yogyakarta, sosok Ratu Kidul memiliki hubungan erat dengan sejarah dan legitimasi kekuasaan Kerajaan Mataram Islam.

Kisah pertemuan Panembahan Senopati dengan penguasa Laut Selatan menjadi bagian penting dalam mitologi Mataram. Hubungan keduanya dipercaya sebagai ikatan spiritual yang kemudian diwariskan dalam tradisi kerajaan.

Tradisi Labuhan yang masih dilaksanakan Keraton Yogyakarta di kawasan pantai selatan menjadi salah satu bentuk pengejawantahan kepercayaan tersebut.

DetikJogja dalam laporan mengenai sejarah legenda Nyi Roro Kidul pada 21 Desember 2023 menjelaskan bahwa cerita sang ratu laut berkembang melalui berbagai versi, termasuk kisah Putri Kadita dan hubungannya dengan Panembahan Senopati.

Bahkan, sejumlah kajian budaya membedakan sosok Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyi Roro Kidul. Keduanya tidak selalu digambarkan sebagai tokoh yang sama dalam tradisi tertentu.

Penelitian Robert Wessing berjudul Nyai Roro Kidul in Puger: Local Applications of a Myth (1997) juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Nyi Roro Kidul berkembang dalam kehidupan masyarakat pesisir Puger, Jember, Jawa Timur.

Dalam penelitian tersebut, mitologi Ratu Laut Selatan memiliki hubungan dengan kehidupan nelayan, keselamatan saat melaut, serta cara masyarakat memahami bahaya dan ketidakpastian pekerjaan di laut.

Artinya, cerita Nyi Roro Kidul bukan sekadar legenda kerajaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat pesisir.

Dari Jawa ke Tanah Batak?

Di tengah beragam versi tersebut, muncul cerita yang cukup mengejutkan dari kawasan wisata sejarah Sopo Guru Tatea Bulan, Sarimarrihit, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir.

Di lokasi tersebut terdapat patung perempuan bernama Si Boru Biding Laut. Dalam silsilah yang berkembang di kawasan itu, sosok tersebut merupakan putri Guru Tatea Bulan dan keturunan Si Raja Batak.

Pemandu wisata setempat, Mitro Ridwan Limbong (41), menyebut Si Boru Biding Laut merupakan sosok yang dikenal sebagai Nyi Roro Kidul di Pulau Jawa.

Menurut cerita Mitro, Si Boru Biding Laut melakukan perjalanan mencari kakaknya, Tuan Saribu Raja, yang meninggalkan Tanah Batak.

Perjalanan itu membawanya menuju Pantai Mursala hingga akhirnya sampai di Pulau Jawa. Karena memiliki kesaktian dan kemampuan menguasai lautan, Si Boru Biding Laut kemudian dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.

Bahkan, dalam versi cerita tersebut, keduanya akhirnya bertemu di kamar nomor 308 Hotel Grand Inna Samudra Beach, Sukabumi.

"Dari Batak. Kalau di Jawa, itu Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan. Asli keturunan Batak itu," kata Mitro sebagaimana dikutip dari detikSumut, Rabu (28/10/2026).

Akademisi Punya Pandangan Berbeda

Meski memiliki cerita yang menarik, klaim asal-usul Batak tersebut mendapat tanggapan berbeda dari kalangan akademisi.

Dosen Antropologi Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond L Damanik, menilai narasi yang menghubungkan Si Boru Biding Laut dengan Nyi Roro Kidul tidak memiliki landasan sejarah yang kuat.

Erond menyoroti persoalan kronologi sejarah dan pola migrasi manusia. Menurutnya, klaim perpindahan tokoh dari kawasan pegunungan menuju pesisir juga perlu diuji berdasarkan kajian sejarah dan antropologi.

Dia juga membandingkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera Utara.

Karena itu, Erond meminta masyarakat lebih kritis terhadap cerita yang disampaikan sebagai sejarah, terutama jika narasi tersebut terus diwariskan kepada wisatawan.

Pada akhirnya, kisah Nyi Roro Kidul memperlihatkan bagaimana satu figur mitologi dapat memiliki banyak versi dan berkembang sesuai kebudayaan masyarakat yang meyakininya.

Apakah Nyi Roro Kidul benar-benar boru Batak yang merantau ke Pulau Jawa? Atau Si Boru Biding Laut dan Ratu Pantai Selatan merupakan dua tokoh berbeda yang kemudian dihubungkan melalui cerita rakyat?

Untuk sementara, biarlah para peneliti sejarah dan antropologi yang mengurai misterinya.

Namun, satu hal yang pasti, kalau benar Nyi Roro Kidul boru Batak, mungkin ada satu pertanyaan yang belum terjawab: selama ini sang ratu laut sudah menikah dengan penguasa Mataram, apakah keluarga besarnya di Samosir sudah mendapat undangan?