09:00 . Harga Emas Terus Turun Akhir Pekan Ini   |   08:00 . Semula Lapuk, Musala di Singgahan Direnovasi dan Diresmikan Dandim 0811   |   07:00 . Menkes Minta Ponpes Tetap Terapkan Prokes   |   12:00 . Tuban Sediakan Paket Setara SD-SMA Gratis untuk Warga Tertinggal   |   11:00 . Cegah Longsor di Rengel, Relawan Tanam 1.000 Rumput Vetiver di Lahan Kritis   |   07:00 . Dear Parents, Ini Tips Merawat Kulit Bayi Agar Tidak Mudah Iritasi   |   14:00 . Harga Cabai Rawit Melonjak, Cabai Kering Jadi Alternatif   |   13:00 . 60 Persen Penerimaan Pajak di Tuban Bersumber dari Sektor Industri   |   12:00 . Diterjang Hujan Lebat, Pohon di Jalan Panglima Sudirman Tuban Tumbang   |   11:00 . Begini Cara Kerja Virtual Police   |   10:00 . Puluhan Ahli Waris Korban Covid-19 di Tuban Batal Terima Santunan Rp15 Juta   |   09:00 . Salurkan Ribuan Masker ke Pesantren, Polres Tuban Canangkan Gerakan Santri Bermasker   |   07:00 . Kanker Payudara dan Serviks Ternyata Bisa Dicegah, Begini Caranya   |   18:00 . Dampak Pandemi Covid-19, Realisasi Penerimaan Pajak Tahun 2020 Turun   |   17:00 . SI dan Stakeholder Evaluasi Program Pemberdayaan FMK Rp7,1 Miliar   |  
Sun, 28 February 2021
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Sepi Akibat Covid, Omset Penjual Oleh-oleh Turun

bloktuban.com | Friday, 19 February 2021 13:00

Sepi Akibat Covid, Omset Penjual Oleh-oleh Turun

Reporter: Nur Malinda Ulfa

blokTuban.com - Pemilik toko oleh-oleh khas Kabupaten Tuban mengeluhkan sepinya pembeli, akibat terkena dampak dari pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum tahu kapan akan berakhir.

Seperti pemilik toko oleh-oleh Ana, Angga Defry mengatakan, sejak pandemi omset yang ia terima sangat turun drastis, tentu hal ini karena pembeli sangat sepi.

Saat pandemi memang warga tidak bisa bebas melakukan aktivitas seperti biasa, karena takut dengan penyebaran Covid-19, sehingga wisatawan yang biasa berkunjung ke Bumi Wali mengurungkan niatnya dan lokasi wisata jadi sepi.

"Sepi banget, omset penjualan turun 80% lebih karena sepi pengunjung. Pariwisata juga lagi sepi kan, apalagi klenteng juga ditutup," ungkapnya kepada blokTuban.com

Toko yang berada di Jalan RE Martadinata ini, juga melayani pesanan oleh-oleh via online, adapaun jajanan yang disediakan mulai dari Trasi Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk seperempatnya, segalam macam krupuk mulai dari Rp10.000, Teri Rp 20.000 dan Ikan Asin Rp10.000 sampai Rp30.000.

Menurut Angga, kalau Klenteng Kwan Sing Bio masih ditutup, omsetnya akan terus menurun. " Kalo Klenteng masih ditutup, pasti tambah sepi. semoga saja pandemi cepat selesai, ekonomi dan UMKM bisa bergerak lagi, apalagi untuk sektor priwisata," tambahnya. [ul/rom]

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Tag : oleh oleh tuban, jajanan khas tuban, dampak pandemi, dampak covid



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Wednesday, 30 December 2020 17:00

    Cangkruk Mathuk Bersama EMCL

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara Pasca dilaksankan Cangkruk Mathuk dalam jaringan (daring) yang digelar operator Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama para wartawan 3 Kabupaten pada Rabu (25/11/2020), dilanjutkan dengan lomba essay dan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more