19:00 . Meski Harga Cabai Melonjak, Pemilik Warung Makan ini Tetap Patok Harga Normal   |   18:00 . Sederet Penerima Hibah Rp7,175 Miliar APBD Tuban tahun 2021   |   17:00 . Cerita Penyintas Covid-19: Rutin Donor Plasma Membuat Tubuh Semakin Sehat   |   16:00 . Pameran Virtual Bulan Maret Diikuti Pelukis dari Tapin Hingga Jambi   |   13:00 . Harga Cabai Melambung, Cabai Busuk Kering di Tuban Dijual Rp50 Ribu Perkilogra   |   12:00 . Setelah Nakes, Ulama jadi Prioritas Vaksinasi   |   07:00 . Selain Bau Mulut, Waspada 3 Masalah Kesehatan Ini Jika Malas Menyikat Gigi   |   19:00 . Kasat Sabhara Polres Tuban Cukur Anggota Berambut Panjang   |   16:00 . Resmikan Kantor MWC NU Kecamatan Soko, Ini Harapan Wabup Tuban   |   13:00 . Harga Gabah Turun, Diskoperindag Tuban Minta Petani Manfaatkan Resi Gudang   |   12:00 . Toleransi Keagamaan di Tuban jadi Miniatur Indonesia   |   07:00 . Awas, Kurang Paparan Lingkungan Hijau Tingkatkan Risiko ADHD pada Anak   |   17:00 . Satu Tahun Covid-19, Tuban Zona Orange, Lamongan dan Bojonegoro Zona Kuning   |   16:00 . Peluang Usaha, Kafe Bukit Teduh Sajikan Panorama Indah   |   15:00 . Kios Milik Warga Grabagan Ludes Dilalap Jago Merah   |  
Fri, 05 March 2021
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Kasus Ibu Bunuh Anak karena Susah Belajar Online, Apa Kata Psikolog?

bloktuban.com | Wednesday, 16 September 2020 07:00

Kasus Ibu Bunuh Anak karena Susah Belajar Online, Apa Kata Psikolog?

Reporter: -

blokTuban.com - Kasus kekerasan terhadap anak yang berujung pada hilangnya nyawa, belum lama ini terjadi di Lebak, Banten.

Jasad bocah delapan tahun ditemukan terkubur dengan pakaian lengkap di TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak.

Setelah ditelusuri, rupanya anak yang masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar itu dianiaya sang ibu berinisial LH (26).

Konon, LH tega membunuh anaknya karena kesal lantaran korban susah diajari saat belajar online.

Terlepas dari kebenaran pengakuan itu, namun kesabaran orangtua memang kerap diuji di masa-masa proses belajar online.

Tentang kasus ini, Psikolog Mario Manuhutu, M. Si, mengaku yakin pemicu dari kejadian ini tak hanya soal masalah anak yang susah diajari saat belajar online.

Stres karena masa pandemi dan faktor lain bisa juga menjadi latar belakang kekerasan tersebut.

Di sisi lain, tak semua orang mampu mengatasi stres yang mendera.

“Orang punya toleransi terhadap situasi yang menekan itu beda-beda,” kata Mario kepada Kompas.com saat dihubungi, Selasa (15/9/2020).

Sehingga, dalam konteks perkara ini, Mario sesunguhnya mengimbau agar para orangtua mengatasi stresnya terlebih dahulu, sebelum turun tangan mengajar atau berinteraksi dengan anak.

“Jadi memang yang perlu penangnan stres adalah orangtuanya dulu. Ketika orangtua sudah bisa menangangi stres dan tekanan, dia bisa mengajar anaknya,” kata Mario lagi.

Selain itu, lanjut Mario, orangtua juga harus selalu mampu mengolah emosi sendiri, sebelum bisa mengolah emosi anak.

Saat mengajari anak belajar, wajar orangtua merasakan perasaan kesal dan marah. Belum lagi bila materi pelajaran terbilang sulit, dan anak susah untuk memahaminya.

“Anak kan lihat kita, anak juga belajar dari apa yang dia lihat,”ujar dia.

“Kita suruh anak tenang, belajar, dan bilang jangan cengeng, tapi kita ngasih tahunya sambil marah-marah juga,” imbuh dia.

Menurut Mario, emosi yang tak bisa dikelola dengan dengan baik, akan membuat orangtua lepas kendali.

Selanjutnya, hal-hal buruk bisa terjadi, seperti mengeluarkan kata-kata kasar yang akan berpengaruh pada psikologis anak, hingga yang terburuk, kekerasan fisik.

Seperti yang disebutkan di awal, mengelola emosi bisa dilakukan orangtua sebelum berinteraksi dengan anak.

Orangtua dihimbau untuk berhenti sejenak, melepaskan stres dengan cara-cara sederhana.

“Tarik nafas dulu, cuci muka misalkan, habis meeting satu jam misalnya, jangan langsung ketemu anak, minum teh dulu, melihat luar dulu, baru kembali lagi,” ujar dia.

Hal ini dilakukan untuk melindungi anak dari kekerasan verbal maupun fisik yang bisa saja terjadi karena orangtua tak bisa mengelola emosi dengan baik.

“Bahwa ketika kita bentak, kita sudah marah, menghardik atau dengan kata-kata yang volumenya keras, nada tinggi, pasti dia kaget,” ujar Mario.

“Anak jadi stres, dibawa dalam situasi yang selalu siaga. Kalau enggak, responnya nangis atau kabur, atau dia ikutan marah juga,” imbuh Mario.

*Sumber: kompas.com


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Tag : pendidikan, orang tua



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Wednesday, 30 December 2020 17:00

    Cangkruk Mathuk Bersama EMCL

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara Pasca dilaksankan Cangkruk Mathuk dalam jaringan (daring) yang digelar operator Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama para wartawan 3 Kabupaten pada Rabu (25/11/2020), dilanjutkan dengan lomba essay dan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more