17:00 . Curi Motor di Tuban, Dua Penadah Asal Banyuwangi Dibekuk Polisi   |   16:00 . Tumpukan Ban Bekas Terbakar, Nyaris Merembet ke Bengkel   |   15:00 . Predikat KLA Tuban Naik Jadi Tingkat Madya   |   12:00 . Banyak Warga Miskin Tak Dapat Bansos   |   08:00 . Bigini Landskap Media Digital di Indonesia Versi AMSI   |   07:00 . Lebih Baik Minum Air Panas saat Cuaca Panas, Ini Sebabnya!   |   18:00 . Gandeng Mahasiswa, Kapolres Tuban Bagikan Bansos Kepada Warga Terdampak Covid-19   |   17:00 . Warga Merakurak Meninggal Usai Pesta Miras di Jenu   |   16:00 . Simak Jadwal Dispensasi Perpanjang SIM Yang Habis Masa Berlakunya Saat PPKM   |   15:00 . FPKB DPRD Kritik Kebijakan Bupati Pangkas Anggaran KONI   |   14:00 . Hati-hati Calo Plasma Sudah Berkeliaran di Tuban   |   13:00 . Anggaran KONI Dikepras, FPKB Teriak   |   12:00 . Ringankan Beban Warga, Lapas Salurkan 50 Paket Sembako   |   11:00 . Sidak Bansos, Bupati Sorot Kinerja Pendamping, Agen hingga Supplier   |   09:00 . Kapolda Jateng Ajak Warga Pergerakan Jalan Bareng   |  
Sat, 31 July 2021
Jl Sunan Muria no 28, Kelurahan Latsari, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Pahami Ciri-ciri Kelelahan Jadi Orangtua dan Cara Mengatasinya

bloktuban.com | Friday, 11 September 2020 07:00

Pahami Ciri-ciri Kelelahan Jadi Orangtua dan Cara Mengatasinya

Reporter: -

blokTuban.com - Menjadi orangtua adalah tugas tanpa henti yang dimulai sejak anak lahir.

Tugas ini memang terasa begitu berat, dengan tanggung jawab yang besar pula tentunya.

Nah, meski naluri menjadi orangtua akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan anak, namun ternyata orangtua juga bisa merasa kelelahan menjadi orangtua.

Kondisi ini perlu diantisipasi agar tak menjadi bola salju yang semakin lama semakin besar, sehingga memengaruhi kondisi anak dan orangtua itu sendiri.

Berikut ini adalah ciri-ciri kelelahan menjadi orangtua, atau yang biasa disebut parental burnout, menurut Psikolog Anak Saskhya Aulia Prima.

1. Kelelahan panjang tak hanya fisik tapi juga mental.
2. Merasa kewalahan dengan semua tugas sebagai orangtua.
3. Memiliki jarak dengan anak, dan merasa mendidik anak tidak menyenangkan lagi.

Jika satu atau beberapa hal di atas mulai terasa, Saskhya mengatakan, orangtua bisa mulai mengatasinya dengan cara-cara sederhana.

"Caranya kalau sudah gitu, kita pause dulu, minum segelas air dan atur nafas,” kata dia dalam Aqua x Raisa Moms Sharing Session “Ibu Sehat, Keluarga Sehat”, Jumat malam lalu.

“Ini kita atur nafas, jadi kayak taruh tangan di dada dan perut, tarik dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan, lanjutkan sebanyak 3-5 kali baru datang ke anak lagi,” imbuh dia.

Orangtua juga bisa melepaskan penat dengan melakukan hal-hal yang membuat diri merasa tenang.

“Ada yang suka loncat-loncat, lihat yang warna-warni dulu, atau istigfar dan bilang sabar, sabar, atau bisa juga menghitung mundur lalu tarik nafas dan buang, baru ke anaknya lagi,” kata dia.

Selain itu, untuk menjaga mental tetap sehat juga bisa dilakukan dengan memberikan waktu untuk diri sendiri melakukan sesuatu yang disukai.

Misalnya, menyanyi, bercocok tanam atau melukis dan menggambar, serta hal-hal lainnya.

Pilihan ini dikenal dengan istilah "me time", yang juga perlu dilakukan orangtua untuk melepas stres.

"Ini penting banget, kita punya waktu untuk diri sendiri itu kayak ngecharge handphone. Nah, kalau sudah ke-charge, kita sudah sehat, keluarga juga sehat,” ucap dia.

Menjaga kesehatan fisik juga harus dilakukan agar mental juga bisa tetap sehat. Pasalnya, kata Saskhya, kesehatan mental tak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik.

“Penting sebenarnya kalau ngomongin hidrasi juga jadi sumbernya, air yang sumbernya sehat dan bagus itu melindungi kesehatan usus yang akan berpengaruh pada kesehatan otak,” ungkap dia.

Selain itu, asupan makanan sehat juga diperlukan untuk menutrisi tubuh dan menjaganya tetap fit.

*Sumber: kompas.com

Tag : kesehatan, pendidikan

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat