20:00 . Baru Ada 37.900 Anak di Tuban yang Punya KIA   |   18:00 . Hadapi Tahun 2020, Kartar Tuban Study Banding ke Bandung   |   17:00 . Akhir Tahun, PA Putus 2.428 Pasangan   |   16:00 . Cangkruk Mathuk di Tuban: Cara Mengelola Bisnis Media Online   |   15:00 . Alat Musik Rusak, Plafon SDN Rahayu Diterjang Puting Beliung   |   14:00 . Setiajit Datangi Lokasi Kilang Tuban   |   13:00 . Pendapatan Dinas Perhubungan Tuban Terealisasi 9,2 Miliar   |   10:00 . Akhir Tahun 2019, 92,07 Persen Anak Di Tuban Sudah Memiliki Akta kelahiran   |   07:00 . 3 Minuman yang Perlu Dibatasi Pemberiannya pada Balita   |   13:00 . Akhir Tahun, 92,07 Persen Anak di Tuban Sudah Memiliki Akta kelahiran   |   12:00 . Razia, Satpol PP Temukan Miras di Tempat Penyimpanan Padi   |   11:00 . Para Hafidz Terima Insentif dari Kemenag Jatim   |   10:00 . KPU Tuban Juara 3 Kategori Daftar Pemilih Berkualitas se-Jatim   |   09:00 . Diduga Tersambar Petir, Tower di Tuban Terbakar   |   08:00 . Akhir Tahun, 192 Hektar Lahan Pertanian Diajukan Klaim AUTP   |  
Fri, 06 December 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Friday, 01 November 2019 10:00

Hitungan Hari, Rekahan Tanggul Sungai Bengawan Solo di Plumpang Makin Parah

Hitungan Hari, Rekahan Tanggul Sungai Bengawan Solo di Plumpang Makin Parah

Reporter: Ali Imron

blokTuban.com - Warga di Desa Sembungrejo dan Kedungrojo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban dihantui rasa was-was, karena rekahan tanggul Sungai Bengawan Solo semakin lebar. Kerusakan tanggul penahan banjir tersebut berlangsung hanya dengan hitungan hari.

Pantauan reporter blokTuban.com, sedari pagi beberapa warga setempat berjaga di tepi tanggul. Mereka memantau perkembangan rekahan tanggul sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.

Relawan masyarakat Desa Kedungrojo, Danarji mengatakan, amblesnya tanggul di perbatasan dua desa ini tergolong cepat. Dua tiga hari yang lalu, rekahan masih bisa dilompati warga. Untuk saat ini warga harus memasang bambu sebagai akses berjalan.

"Rekahannya makin lebar dan berbahaya. Sarga sekarang tidak bisa lewat," terang Danarji, Jumat (1/11/2019).

Prakiraan warga, panjang kerusakan tanggul kurang lebih 110 meter. Resiko yang dihadapi, harta benda dan nyawa warga Plumpang selatan terancam jika sewaktu-waktu banjir datang.

Resiko banjir akan berdampak pula pada sektor pertanian, karena wilayah Plumpang menjadi salah satu lumbung pangan di Bumi Wali.

"Respon pihak terkait masih lemah. Informasinya terkendala dana," tegasnya.

Plt. Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Emil Pancoro menjelaskan, jika tanggul rekah di Plumpang telah disurvei bersama Dinas PRKP, PUPR, Camat Plumpang dan BBWS Bengawan Solo.

"Hari ini presentasi ke Sekretaris Daerah untuk segera diambil tindakan," singkatnya.

Sebelumnya, kondisi tanggul Sungai Bengawan Solo Desa Sembungrejo pada Jumat (27/9/2019), diketahui ambles dengan panjang retakan 70 meter, kedalaman 60 Centimeter.

Penurunan tanah tanggul penahan banjir tersebut, pertama kali terjadi di musim kemarau 2019. Pihak BBWS juga telah melakukan upaya jojoh telo, tapi akhir Oktober kembali rekah. [ali/rom]

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Tag : tanggul, sungai bengawan solo, rekahan tanggul



Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more