07:00 . Kehabisan Masker Sekali Pakai, Bolehkah Pakaikan Anak Masker Kain?   |   18:00 . Fauzan Fuadi Menilai Gerakan #DiRumahAja Cenderung Setengah Hati   |   17:00 . Pertamina EP Asset 4 Salurkan Bantuan ke Dinkes   |   16:00 . Kurang Konsentrasi, Pengendara Motor Terjebur Ke Dalam Sungai   |   14:00 . 60 Persen Pendonor Absen, Stok Darah Trombosit di PMI Kosong   |   13:00 . Gerindra Berikan Masker dan Hand Sanitizer untuk RSUD Koesma   |   12:00 . Cegah Penyebaran Corona, Pemdes dan Warga Kebomlati Gotong Royong Semprot Fasum   |   11:00 . Terapkan Physical Ditancing, Perpustakaan Tutup Layanan   |   08:00 . Tanggapi Cuitan Guru Honorer, Dispendik Harap Sabar dan Pengertian   |   07:00 . 4 Hal yang Bisa Dilakukan agar Tak Kepikiran soal Masa Lalu Pasangan   |   13:00 . Antisipasi Covid-19, Desa Gununganyar Terapkan Physical Distancing   |   12:00 . Nelayan Ojek Laut Semprot Disinfektan Mandiri   |   11:00 . Ada Lima PDP di Tuban, Salah Satunya Anggota DPRD   |   10:00 . Pertamina EP Asset 4 Sosialisasikan Protokoler Covid 19   |   09:00 . Relawan Setiajit Bersama Warga Gotong Royong Lawan Covid-19   |  
Tue, 31 March 2020
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Monday, 19 August 2019 19:00

Ceritera tentang Walur, Makanan Masa Sulit Awal Kemerdekaan Indonesia

Ceritera tentang Walur, Makanan Masa Sulit Awal Kemerdekaan Indonesia Warga RT 02 RW 05 Pulerojo, Desa Simo tasyakuran dan doa bersama sembari mengisahkan perjuangan hidup masa lalu

Reporter: M. Anang Febri

blokTuban.com - Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 di tahun 2019 ini, memiliki makna berarti bagi sejumlah orang tua yang masih hidup pada era milenial yang begitu maju saat ini. Refleksi kemerdekaan, punya titik perbandingan yang amat jauh dari waktu ke waktu. 

Mulai dari tren mode pakaian, kemajuan teknologi dan informasi, percampuran budaya, juga perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat dari masa ke masa selalu disyukuri dalam tasyakuran Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ada cerita klasik, dimana masyarakat sekitar tahun 1965-an dulu masih mengkonsumsi tanaman 'walur' untuk dimakan. Keadaan demikian jelas berbeda ketimbang era masa kini, yang mana mayoritas masyarakat sudah bisa menikmati lezatnya nasi putih dari tanaman padi, ataupun nasi jagung dari olahan serat jagung yang diproses terlebih dulu.

"Kalau orang dulu makan walur, belum ketemu nasi putih seperti sekarang ini. Orang kelahiran 50-an pasti menjumpai makanan itu kok," cerita H. Karjono (64), salah satu tokoh masyarakat RT/RW 03/05 Pulerejo, Desa Simo, Kecamatan Soko.

Dijelaskannya lagi, tumbuhan walur saat itu menjadi andalan masyarakat umum untuk makan sehari-hari. Bukan tanpa sebab, tapi keadaan saat itulah yang memenangi kisah mengapa begitu banyak warga masyarakat, khususnya yang hidup dekat semak belantara hutan maupun dekat semak bambu.

Tumbuhan walur merupakan jenis tanaman keluarga talas-talasan, dengan Genus Amorphophallus. Termasuk golongan dari jenis bunga bangkai yang ukurannya lebih kecil. Masyarakat Jawa mengenal dengan sebutan porang, suweg, dan juga walur.

Masyarakat tempo dulu dengan sangat mudah menemukan walur saat musim penghujan. Keberadaannya bisa ditemui di berbagai hutan, semak pohon bambu, dan perkebunan lainnya. 

"Pas hujan pasti banyak kok. Sampai sekarang pun sepertinya juga masih ada, tapi ya gitu, pas musim hujan saja," imbuh bapak tig anak kelahiran 1955 tadi.

Untuk mengkonsumsi Walur, warga harus terlebih dulu memilah, mencuci, serta mengeringkan tanaman umbi tersebut. Ya, bisa dikatakan tak mudah, juga kurang enak jika dikonsumsi harian oleh masyarakat hari ini.

"Zaman sekarang sudah enak lah. Sudah bisa makan nasi putih, banyak makanan, nggak kekurangan, nggak kesusahan. Dulu juga sempat makan walur kok. Tapi rasanya agak aneh kalau dimakan orang sekarang, soalnya gatal. Gatalnya di tenggorokan sini sesudah makan walur," kisah Mbah Kasdilan (68) yang sangat hafal ketika ditanya soal rasa walur saat itu.

Maka dari itu, hakikat kemerdekaan Indonesia yang sudah berusia 74 tahun ini dimaknai dengan tasyakuran dan doa bersama. Sekaligus, menceritakan bagaiman susah payah orang zaman dulu untuk memperoleh sandang pangan. [feb/lis]

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Tag : kemerdekaan, ri, walur



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Friday, 17 January 2020 12:00

    Poling blokTuban.com Menganulir Suara Ganda oleh Robot

    Poling blokTuban.com Menganulir Suara Ganda oleh Robot Sistem polling yang diadakan blokTuban.com mulai Kamis (16/1/2020) kemarin, untuk mengukur partisipasi pembaca terkait sosok Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Tuban mendeteksi keberadaan bot/robot yang memilih lebih dari satu...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more