Suka Duka Petani di Kaki Bukit Watu Ondo Bektiharjo

Reporter: M. Anang Febri

blokTuban.com - Sebagai mata pencaharian utama mayoritas warga di sekitar kaki perbukitan Watu Ondo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, aspek pertanian wilayah setempat memiliki sejumlah hal khusus yang sampai saat ini masih saja ditekuni penduduk setempat.

Lahan tanam yang terpampang disekitar perbukitan kapur yang juga menjadi spot wisata tersebut, banyak ditanami tanaman jagung, cabai, dan umbi-umbian.

Penuturan para petani disana mengatakan, bahwa musim tanam dalam setahun dapat dimaksimalkan untuk 2 kali masa tanam. Rentang waktu tersebut yakni antara musim penghujan dan menjelang pergantian musim. Penduduk setempat menamai dengan masa apitan, yang berarti masa diantara pergantian musim

"Kalau tanam mengandalkan air hujan, setahun bisa 2 kali tanam. Rendeng (penghujan) dan masa apitan," ujar Sumari (55), petani setempat.

Seperti sekarang ini, sambungnya, tanaman jagung sedang tumbuh di sekitar lahan tanam perbukitan Watu Ondo. Kendati begitu, petani tak serta merta melakukan perawatan khusus pada tanaman yang sedang dirawat.

"Hanya lihat perkembangan tanaman saja. Soalnya gak bisa nyiram sendiri, seperti lahan yang banyak dan dekat sumber air. Kalau ada hujan sebentar-sebentar ya syukur, kalau gak ada ya cukup dari air embun sisa malam hari," jelasnya panjang lebar.

Petani lain, Jaswi (50) juga menuturkan hal yang sama. Kendati kondisi lahan tani terbilang cukup sulit dalam proses perawatan tanaman, namun selalu saja hasil panen berbuah manis.

Terbukti dengan harga panenan jagung, yang saat ini di wilayah sekitar menginjak angka Rp 4000 per Kg panenan. Harga tersebut lebih baik dari harga pada musim sebelumnya, yang sempat berkutat di angka Rp 3000-an per Kg.

"Harga panen sekarang lumayan bagus Mas, masih 4000-an. Tapi ya ada susahnya, pas panen. Kan harus angkut hasil panen dari lahan tanam ke jalan raya untuk dijual, tapi jaraknya jauh," ungkapnya kepada blokTuban.com, Selasa (21/5/2019).

Dengan begitu, tak sedikit para petani yang harus mengeluarkan tenaga lebih. Sebab jarak angkut barang panen yang lumayan jauh, disertai medan Watu Ondo yang tak gampang dilalui, petani mengandalkan jasa dari pekerja angkut atau kuli angkut.

"Jadinya harus keluarkan biaya lagi buat upah. Kalau kita uang tua kebanyakan gitu, kan gak kuat kalau diangkut sendiri," tukasnya. [feb/ito]