15:00 . Tersangka Penggelapan Bantuan Sapi di Tuntut 1,5 Tahun Penjara   |   14:00 . Cari Bibit Atlet, PO Cabang Tuban Gelar Kompetisi Antar Ranting   |   12:00 . Suksesi Pemilu di Tuban, KPU Gelar Konser Musik.   |   11:00 . 129 Bidang Lahan Warga Selesai Dipatok untuk Kilang Tuban   |   09:00 . Camat Hendro Pensiun, Sempat Bercita-Cita Jadi Hansip   |   08:00 . Refresing Bersama Kader Kesehatan Kecamatan Jenu   |   07:00 . Manfaat Berhubungan Intim Selama 30 Hari   |   17:00 . Belum 3 Bulan, Ada 7 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan   |   16:00 . Bulog Belum Bisa Terima Beras Dari Petani, ini Alasannya...   |   15:00 . Nuansa Klasik Santai, Ngopi Nongkrong Tanjung Sari   |   14:00 . Masyarakat Sekitar TPPI Rutin Dapat Pengobatan Gratis   |   13:00 . Kebakaran Lumat Rumah Pedagang Ikan   |   12:00 . Tak Lagi Terkelola, Begini Komen Pengunjung Sendang Maibit   |   11:00 . Tiga Warga Jenu Itu Resmi Tersangka   |   10:00 . Kaji Cepat Kebakaran, Berlanjut Gotong Royong Dirikan Rumah Korban   |  
Mon, 25 March 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Wednesday, 09 January 2019 15:00

Burung-Burung Hutan di Sepanjang Jalan Pakah

Burung-Burung Hutan di Sepanjang Jalan Pakah

Reporter: M. Anang Febri

blokTuban.com - Jenis satwa burung memang memiliki ribuan jenis dan spesies, dengan corak keindahan warnanya. Tak pelak jika masyarakat umum, khususnya pecinta burung maupun kicau mania saling berburu mendapatkan spesies kesukaannya.

Di sekitar jalan Raya Pakah-Tuban, terdapat beberapa deretan burung yang dijual secara umum. Pelbagai jenis burung, mulai dari burung umum yang sering dijumpai seperti Ciblek, Perkutut, Kacer, sampai burung kicau seperti Kenari, Pleci, Lovebird, Kenari dan lainnya.

Penuturan salah seorang penjual burung-burung hias dan kicau itu menunjukkan bahwa, kebanyakan burung yang dijual tersebut berasal dari alas atau hutan lokal sekitar Tuban.

"Jenisnya banyak. Ada yang ternakan, ada juga yang dapat dari alas," papar penjual burung sekitar Jalan Raya Pakah-Tuban itu.

Pemuda asal Kecamatan Plumpang itu menambahkan, hasil perolehan jenis burung yang berasal dari hutan tersebut didapat dengan cara memberi umpan atau membuat kebaikan khusus.

"Stoknya ini, kita jualnya burung hias dan kicau saja. Kalau burung jenis lain bisa dipesan dulu, tapi kalau jenis satwa dilindungi kita kurang berani," tambahnya.

Di sisi lain peraturan pemerintah pusat, yakni Peraturan Menteri (Permen) LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), burung-burung berkicau yang banyak dipelihara oleh masyarakat, saat ini mulai dilindungi. Akan tetapi, hal tersebut kurang begitu maksimal didengar oleh telinga umum.

Isi lampiran dari Permen LHK tersebut menyebutkan sekitar 500 jenis burung yang mulai dilindungi. Banyak diantara jenis tersebut adalah Elang, Rajawali, Kakaktua, Cendrawasih, Gagak, Camar, Poksai, Sikatan, Nuri, Betet, dan lain sebagainya. [feb/ito]

Tag : burung, hutan, tuban

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 04 March 2019 08:00

    Pondok Literasi

    Pondok Literasi Saat ini lagi gencar-gencarnya gerakan litersai. Di mana-mana ada komunitas baca, tadarus puisi dan dan bedah buku, yang arahnya untuk menumbuhkan cinta membaca. Baru sebagian kecil kegiatan di Kabupaten...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more