Reporter: Dwi Rahayu

blokTuban.com - Berada di bantaran sungai avur, membuat petani Dusun Bandungrowo, Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang terus memutar otak bagaimana lahan mereka bisa produktif. Akhirmya pasca panen, sebagian besar petani menyulap lahan persawahan menjadi kolam budidaya ikan.

Di musim penghujan mereka sengaja menjadikan sawah menjadi lahan budidaya ikan. Pasokan air yang berlebih tepat digunakan untuk mengisi petakan sawah. Jenis ikan yang ditabur sebagian besar ikan bandeng, bader, mujaer dan udang.

Salah seorang petani setempat, Tohirin, mengatakan Kedungsoko bagian selatan tidak memanfaatkan sawah untuk tambak ikan sedangkan sebelah utara dibuat tambak.

"Selama satu tahun panen padi bisa dua kali dan satu kali panen ikan. Tiap petak sawah ada sumur bornya juga. Yang sebelah selatan pnen dua kali dengan memanfaatkan air dari aliran sungai Bengawan Solo," ungkap Tohirin.

Penuturan dari petani lain, Masuri, bibit ikan yang ditebar berusia satu bulan. Tiap satu hektare diberi satu rean yang berisi 5.500 ekor ikan.

"Satu rean bibit sekitar seharga Rp600.000. Yang kecil hingga ukuran 10 centimeter. Dari ukuran kecil namanya beluk, semarangan, gelondong dan besar lagi semian," kata Masuri kepada blokTuban.com

Untuk makanan ikan, budidaya ikan ini diberi pupuk setiap satu minggi sekali. Ukurannya setiap satu hektare rata-rata menghabiskan 50 kilogram. Terdiri dari Urea dan Sp36 dengan perbandingan satu banding satu. Saat menginjak dua bulan, pakan ditambah dengan Mes atau Prima. Pada usia perkembangbiakan ini juga dilakukan penghitungan. Yaitu menggunakan krikit atau jaring dengan bantuan orang banyak.

"Tujuan penghitugan untuk mengetahui jumlah apakah sesuai dengan jumlah awal. Kalau berkurang akan dilakukan penambahan. Jangan samapai kita memupuk kolam yang tidak ada ikannya. Biasanya ikan dimakan ular sawah di bawah usia dua bulan. Kalau di atas dua bulan bisa sudah aman," pungkasnya. [dwi/col]