07:00 . Lebih Sehat dengan Bangun Pagi, Begini Cara Menjadi Morning Person   |   20:00 . AMSI Rumuskan Strategi Mendorong Ekosistem Digital yang Adil bagi Media Siber   |   19:00 . Tuban Banjir, Hingga Minggu Malam Hujan Belum Reda   |   15:00 . Marak ODGJ Awal Tahun 2021, Ini Kata Kasatpol PP Tuban   |   14:00 . Operasi Yustisi, 4 Orang Tak Pakai Masker Diminta Push Up   |   12:00 . Pemkab Tuban Inginkan Jalan Pantura Dibeton   |   10:00 . Pecinta Sepeda Tua Asal Rengel Ditemukan Meninggal di Plumpang   |   07:00 . Tips Tampil Elegan Tanpa Habiskan Banyak Uang   |   16:00 . Dandim Tuban Tanam Pohon di Kawasan Air Terjun Nglirip   |   15:00 . Meski Dihimpit Pandemi, Capaian BAZNAS Tuban Lampaui Target   |   14:00 . Anggota DPRD di Tuban Mengecat Lubang Jalan yang Bahayakan Pengendara   |   13:00 . Unirow Tuban Peringkat 154 dari 2.136 Perguruan Tinggi se-Indonesia   |   12:00 . Hindari Tumpahan Kalsium di Jalur Pantura, Pengendara Motor Jatuh   |   10:00 . Inilah Kriteria Orang Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac   |   07:00 . Orangtua, Yuk Kenali Gaya Belajar Anak!   |  
Mon, 25 January 2021
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Dasmadi, Tuna Daksa Penganyam Bambu

Sempat Kurung Diri, Kini Hidup Mandiri

bloktuban.com | Monday, 16 November 2015 06:00

Sempat Kurung Diri, Kini Hidup Mandiri

Mempunyai fisik berbeda dengan yang lain, tak membuat Dasmadi (64)  berputus asa. Meski tidak mempunyai dua kaki (tuna daksa), kakek ini pantang meminta-minta dan memilih bekerja dengan kemampuan yang dia miliki. Luar biasa.

Reporter: Edy Purnomo

blokTuban.com - Kakek Dasmadi, begitu dia akrab dipanggil, ramah menyambut reporter blokTuban.com di tempat sederhananya di Desa Temayang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Dinding rumah yang berasal dari anyaman bambu, ternyata sebagian besar juga hasil karyanya.

“Saking pundi? (Dari mana?)” katanya ramah menanyakan asal blokTuban.com.

Ketika dikunjungi, Dasmadi tengah asyik menganyam bambu. Sesekali dia berjalan menggunakan tangan, ketika membutuhkan peralatan menganyam. Ya, sejak lahir Dasmadi memang ditakdirkan tidak mempunyai kedua kaki.

Puas basa-basi, Dasmadi mulai menceritakan pekerjaan sebagai penganyam bambu. Lengkap dengan pahit getir kehidupan yang dia alami sebagai orang yang terlahir tanpa kaki. Bungsu dari pasangan Dasimin dan Kamsinah ini mengaku pernah berputus asa ketika kecil. Menyadari dia berbeda dengan orang kebanyakan, terlebih seluruh hidupnya nyaris bergantung dengan keberadaan dua orang tuanya dan ketiga kakak yang menyayanginya.

“Sejak lahir hidup bergantung dengan orang tua dan ketiga kakak saya, karena tidak mempunyai ini (sambil menunjuk kaki penulis),” kenang Dasmadi sambil tersenyum.

Hatinya semakin getir, melihat teman sebayanya bisa bermain dan membantu orang tua dengan leluasa. Ingin dia bisa membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang, tapi apa daya keluarga tidak pernah mengizinkan karena keterbatasan yang dimiliki.

Menginjak usia remaja, Dasmadi seolah dibuat tak berdaya. Semua temannya bisa bekerja dengan menggarap tanah di ladang, menjadi tukang, ataupun berdagang, bahkan pekerjaan lain yang lazim dilakukan warga setempat. Perasaan putus asa membuat dia mengurung diri di rumah selama beberapa tahun.

“Saya? Mencangkul di ladang tidak pernah selesai. Jadi tukang tidak bisa manjat, atau mau berdagang juga tidak bisa jalan,” katanya dalam bahasa jawa sambil tertawa.

Tuhan tidak mungkin membiarkan hambanya terpuruk, kata Dasmadi. Hal ini dia rasakan pada suatu siang, ketika melihat potongan bambu tergeletak di belakang rumah. Entah kenapa, tangannya tergerak memegang bambu itu dan membelahnya. “Saya belah bambu itu, kemudian membuat keranjang tempat rumput,” kata Dasmadi.

Karya pertamanya ternyata cukup bagus. Terbilang dengan adanya salah satu tetangga yang tertarik dan langsung membeli. Bahkan meminta dia membuat satu anyaman lagi dengan bentuk yang sama. Pesanan demi pesanan keranjang rumput semakin banyak. Dasmadi merasa inilah jalan hidup yan disediakan Tuhan. Dia pun semakin rajin mempelajari aneka kerajinan lain dengan bahan dasar bambu. Selama ini dia belajar secara otodidak. Hanya dengan melihat suatu bentuk kerajinan, dia langsung bisa membuatnya menggunakan bahan bambu.

“Tidak ada yang mengajari, saya lihat saja bentuknya seperti apa, kemudian dibuat dengan bambu,” terang.

Produk kerajinan buatan Dasmadi semakin banyak. Bambu menjadi anyaman dan kerajinan menarik di tangan Dasmadi. Akhirnya dia bisa mandiri dan membiayai hidup. Ia semakin bersyukur, setelah berhasil menyunting seorang perempuan tetangganya, Wasi (55) di usia 20 tahunan. Wasilah yang menemani kehidupan Dasmadi sampai sekarang, bahkan membantu Dasmadi menjual bahan-bahan kerajinan yang ada.

Saat ini produk Dasmadi yang paling laku adalah tempat rumput yang dipatok dengan harga Rp30.000, Widhik atau tempat menjemur ikan dengan harga Rp25.000, dan juga gedheg atau dinding bambu dengan harga Rp20.000/meter. “Ada yang pesan, ada yang dijual istri di pasar. Lumayan bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” terang Dasmadi bangga.

Usaha berjalan tidak berarti tanpa hambatan. Dasmadi sekarang kesulitan mendapatkan bambu sebagai bahan baku anyaman. Rumpun bambu banyak yang ditebang karena tidak memiliki nilai ekonomis. Akrab dengan cobaan bukan perkara baru bagi Dasmadi. Sulitnya mendapat bahan baku bukan pikiran utama. Tetapi tidak mempunyai keturunan sampai sekarang, mengajarkan Dasmadi tentang keikhlasan di usia senja.

“Sudah tua, manut wae karo dalange urip, (ikut saja sama dalangnya kehidupan),” kata Dasmadi sabil tetap tersenyum ramah.

Sayup suara adzan terdengar di surau dekat rumah Dasmadi. Pria yang tertempa getir kehidupan sejak lahir ini mengajak salat Duhur bersama. Dibalik punggungnya, reporter blokTuban.com seperti melihat kesabaran, kegigihan, dan semangat menunaikan tugas sebagai makhluk ciptaan Tuhan. [pur/mad]

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Tag : profil, sosok, tuna daksa, kerek



PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Wednesday, 30 December 2020 17:00

    Cangkruk Mathuk Bersama EMCL

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara

    Lomba Essay dan Fotografi EMCL, 3 Reporter BMG Raih Juara Pasca dilaksankan Cangkruk Mathuk dalam jaringan (daring) yang digelar operator Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama para wartawan 3 Kabupaten pada Rabu (25/11/2020), dilanjutkan dengan lomba essay dan...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more