Santri Kaya Tidak Berdosa

Reporter : M. Nurkholis

blokTuban.com - Santri yang kaya raya, itu tidak dosa. Karena Rasulullah mengajarkan itu. Tak sedikit sahabat yang kaya raya. Dengan kekayaannya itu justru bisa membantu perjuangan islam. Begitu juga kaum perempuan. Itu contohkan Syayidah Khadijah yang di awal-awal perjuangan menyebarluaskan islam, harta bendanya banyak untuk membiayai.

Bagaimana Syayida Abu Bakar, Utsman dan Ali RA yang dengan harta yang dimiliki mampu mendukung tak sedikit perjuangan dalam menyebarkan islam. Sehingga menjadi kaya bukan yang salah, karena dengan kekayaan bisa berbuat banyak untuk ibadah dan perjuangan.

Hal itu disampaikan KH. Ahmad Sugeng Utomo Dewan Penasehat Santripreneur Indonesia. Kiai yang juga penggagas Santripreneur Indonesia menyemangati para peserta pelatihan digital marketing uang digelar Santripreneur Indonesia Kabupaten Tuban. Ada yang digelar di aula KH Hasyim Asy’ari kampus Institut Agama Islam Nahlatul Ulama (IAINU) Tuban selama tiga hariu 1-3 Desember 2022.

‘’Jadi, yang ibu-ibu jangan kaget kalau ada pengusaha perempuan yang sukses, sejak jaman Rasulullah sudah ada. Bagaimana Syayidah Khadijah membiayai perjuangan rasulullah dakwah dengan hartanya. Jadi jangan mau kalah,’’ ujarnya.

Pria asal Jogjakarta itu menyebut, santri juga tidak harus jumud dan membatasi peluangnya untuk bisa menjadi sukses dan kaya. Karena dengan kekayaan yang dimiliki bisa berbuat lebih banyak dan memberikan manfaat bagi sekitarnya.

‘’Maka tanamkan dalam otak dan pikiran mulai saat ini, bahwa saya adalah muzakki bukan mustahik, saya adalah muzakki bukan mustahik,’’ ajaknya.

Dengan mulai membangun mental kaya, cara berfikir juga berbeda. Sebab, Wakil Rais Syuriah PWNU Jogjakarta itu menyebut, rerata ada kemalasan dalam masyarakat. Karena malas itu, sulit untuk maju. Dia punya pengalaman pernah memberikan 400 gerobak dagangan dan modal untuk masyarakat. Lalu dibuatkan event, namun tidak jalan. 

‘’Ada persoalan fundamental yaitu mental, maka harus diubah mentalnya. Misalnya harus ditekankan saya belum sejahtera maka harus bekerja keras dan berusaha. Saya ingin mengajak peserta untuk tidak hanya menjadi peserta pelatihan terus, tapi ada yang menjadi pengusaha dan menghasilkan,’’ ungkapnya.

Digitalisasi, lanjut dia, memberikan dampak yang luar biasa. Sehingga, marketing sangat penting ditempatkan di dunia digital. Harapannya digitalisasi bisa mengangkat UKM, UMKM dan mencetak banyak entrepreneur.

‘’Sebab, di Indonesia ini baru 3,47 persen pengusahanya, sedang di Singapura sudah 7 persen lebih,’’ tuturnya.

Di sela pelatihan, dilakukan penandatanganan kerjasama antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) dengan Santripreneur Indonesia. Kerjasama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa dan masyarakat. 

Nota kesepakatan tersebut ditandatangani Dekan FEBI IAINU Dian Rustyawati, S.T., M.MPd dan perwakilan Santripreneur Jawa Timur Tasyhudi, SE.

Pelatihan tersebut untuk Koperasi/UKM/Kelompok Strategis lainnya selama tiga hari 1-3 Desember 2022 di aula KH Hasyim Asy’ari kampus IAINU Tuban. Pelatihan itu dengan tema Digital Marketing untuk Strategi Branding itu juga bekerjasama dengan UPT Pelatihan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur.

Sementara Dekan FEBI IAINU Tuban Dian Rustyawati menambahkan, kerjasama yang dilkukan FEBI dengan Santripreneur Indonesia terkait dengan pendidikan, pelatihan dan pengabdian masyarakat. 

‘’Kita bisa memberikan pelatihan-pelatihan pada masyarakat bersama dengan Santripreneur ini. Juga bisa memberikan pendidikan untuk mahasiswa agar kapasitas mahasiswa meningkat,’’ katanya.[lis/ono]