Jelang Idul Fitri, Bisnis Kue Kering Dadakan Membludak

Reporter : Savira Wahda Sofyana

blokTuban.com – Menjelang datangnya hari raya Idul Fitri 1443 H, masyarakat mulai berbondong-bondong menyiapkan berbagai kebutuhan. Seperti pakaian baru hingga makanan yang akan dihidangkan untuk menjamu para tamu yang berkunjung. 

Maka tak heran, jika momentum tersebut dimanfaatkan oleh kebanyakan masyarakat untuk menambah nilai ekonomis dengan menjual berbagai pernak pernik lebaran. Salah satu bisnis dadakan jelang Idul Fitri yang kerap dilakoni masyarakat ialah menjual kue kering. 

Seperti halnya Kayami, masyarakat asal Desa Margosoko, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban yang memanfaatkan adanya peluang tersebut dengan membuka bisnis kue kering dari tahun ke tahun setiap bulan Ramadan tiba. 

“Alhamdulillah tahun ini kembali buat kue kering untuk lebaran lagi. Sebenarnya sebelum punya usaha saya sudah produksi kue lebaran, sudah sekitar 6 tahunan,” terangnya kepada blokTuban.com, Kamis (21/4/2022).

Ada berbagai macam kue lebaran yang dibuat oleh Ami, seperti kue nastar, kue kacang, kue semprit dan masih banyak lagi. Selain membuat kue, ia juga menyediakan jajanan lainnya seperti kacang bawang ataupun kacang pedas manis yang kerap disuguhkan di rumah-rumah warga. 

Harga yang ditawarkan untuk berbagai macam produk olahannya sendiripun berbagai macam, yaitu mulai dari harga Rp20 ribu hingga Rp45 ribu per kemasan tergantung jenis dan ukuran yang diminta oleh pelanggan. 

“Ada paket 3 itu harga Rp50 ribu, untuk toples isi setengah kilogram jual Rp45 ribu. Terus jual yang kiloan juga, harganya dari Rp45 ribu sampai Rp20 ribu beda ukuran,” katanya. 

Selama bertahun-tahun melakoni bisnis kue lebaran, menurut perempuan berhijab tersebut pada tahun ini penjualannya mulai meningkat jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, akibat dari adanya pandemi Covid-19. 

Menurutnya, selain pandemi tidak ada kendala berarti yang dihadapinya selama melakoni bisnis tersebut. Hanya saja, menurutnya persaingan harga kue membuatnya merasa sedikit resah. 

“Alhamdulillah nggak ada kendala, cuma persaingan harga saja yang bikin resah karena harga pabrik yang lebih murah kalau dibandingkan home made. Tapi alhamdulillah tahun ini mendingan karena Covid sudah hilang, dua tahun kemarin terdampak Covid,” tuturnya. 

Lebih lanjut, perempuan 40 tahun itu juga bercerita jika pada Ramadan hari ke-5 ia sudah mulai produksi dan akan tutup orderan 10 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, dalam beberapa minggu berjualan kue kering, rata-rata dalam sehari Ami mengaku bisa menjual sekitar tiga hingga lima lusin kue dalam sehari. 

“Puasa 5 hari sudah produksi dan minta dikirim, kalau close ordernya H-10 lebaran. Kalau penjualan nggak pasti, tapi rata-rata sehari dapat 3 lusin tapi kadang juga 5 lusin,” imbuhnya. [Sav/Ali]