Berikut Teknik Pembuatan Gerabah Agar Awet dan Tidak Mudah Pecah

Reporter: Savira Wahda Sofyana

blokTuban.com - Jika kalian berkunjung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Kalian akan disuguhkan dengan berbagai gerabah yang dijemur di pinggir jalan. Meski saat ini perajin gerabah sudah mulai berkurang, namun masih ada sebagian penduduknya yang tetap eksis menghasilkan gerabah.

Hasil gerabah buatan masyarakat Ngadirejo sendiri sudah terkenal sejak bertahun-tahun yang lalu dengan kualitas yang awet dan tidak mudah pecah. Untuk bisa menghasilkan produk gerabah yang awet, tentu para masyarakat memiliki cara atau teknik tersendiri dalam membuatnya. Rabu (26/1/2022).

Salah satu perajin gerabah, Iismiyatin yang masih eksis membuat gerabah hingga saat ini, mengatakan jika gerabah-gerabah miliknya tersebut memiliki teknik pembuatan yang sama pada umumnya. Akan tetapi, ia mengatakan jika produk buatannya itu awet lantaran proses pemanggannya yang masih menggunakan cara manual.

"Biasanya orang-orang itu membandingkan gerabah sini sama daerah-daerah lain, katanya lebih bagusan dari sini. Soalnya ini kan membakarnya masih dengan cara manual, jadi lebih matang dan kalau matang lebih awet," ujarnya kepada blokTuban.com

Karena pembakarannya masih dengan cara manual, maka teknik membakarnya pun dengan bahan-bahan yang sederhana. Seperti menggunakan kayu, dedek, dan juga jerami.

Proses pembakaran juga memerlukan waktu yang panjang, biasanya setelah gerabah selesai dijemur maka mulai dibakar dengan durasi waktu semalaman lebih. "Berjam-jam soalnya nunggu kayunya nyala terus jeraminya juga. Kalau waktunya itu nggak mesti, biasanya jam 1 mulai besok paginya selesai," bebernya.

Tidak hanya pembakarannya yang dilakukan secara manual saja. Akan tetapi gerabah buatan ibu dari tiga anak ini juga melalui 2 kali tahapan pembakaran. Hal tersebut dilakukan agar gerabah miliknya benar-benar matang dengan sempurna.

"Bakarannya dua kali, dipanasi dulu habis dipanasi baru di bakar pakai Kayu. Kalau memanaskan cuma pakai daun-daun jati yang kering saja," imbuhnya.

Biasanya, saat memproduksi gerabah-gerabahnya tersebut perempuan ramah ini dibantu oleh ibunya dan bisa menghasilkan kan 50 pot bunga dalam sehari.
Lebih lanjut, perempuan berusia 40 tahun itu mengatakan jika untuk membuat gerabah dibutuhkan 3 jenis tanah.

Diantaranya yaitu pasir Bengawan, tanah pegunungan, dan juga tanah yang mengandung keramik. Untuk bisa mendapatkan ketiga jenis tanah itu, biasanya Iis membelinya di penjual tanah yang sudah menjadi langganannya selama ini.

Ia juga menambahkan jika tanah yang akan digunakan sebagai adonan membuat gerabah, terlebih dahulu harus digiling kemudian baru dicampur menjadi satu. "Kalau tanah yang dari Bengawan saja nggak bisa, kalau waktu dikeringkan jadinya pecah, terus bakarannya juga nggak bisa bagus seperti ini," terangnya. [sav/sas]