Generasi Kedua Pembuat Wingko, Bertahan 20 Tahun Pertahankan Kualitas Rasa

 

Reporter: Savira Wahda Sofyana 

blokTuban.com – Wingko merupakan makanan yang berbahan dasar kelapa, berbentuk bundar dan juga pipih. Biasanya wingko dikenal sebagai oleh-oleh makanan khas Babat Kabupaten Lamongan. 

Akan tetapi seiring dengan perkembangan saat ini wingko juga diproduksi oleh berbagai daerah, salah satunya yaitu di Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. 

Salah satu warga Desa Kesamben, Reni, membuat wingko sejak 20 tahun yang lalu dengan resep turun temurun dari keluarganya. Saat ini ia adalah generasi kedua setelah ibunya. 

“Sudah sekitar 20 tahun saya membuat wingko ini, resep wingkonya saya dapatkan dari ibu saya dulu juga berjualan wingko,” ujarnya saat ditemui blokTuban.com di rumah produksinya pada Jumat (24/12/2021). 

Wingko buatan Reni ini bisa bertahan hingga puluhan tahun dengan mempertahankan kualitas rasa dan juga bahan-bahan dasar yang digunakan. Karena sudah lama menggeluti usaha tersebut, saat ini sudah banyak orang yang mengetahui kualitas rasa dari wingko buatannya.

Meskipun Reni hanya memasarkan produk wingkonya itu dari mulut ke mulut, akan tetapi wanita berusia 40 tahun tersebut mengaku jika jajanan produksinya bersama sang suami itu sudah mengudara ke luar pulau hingga luar negeri. 

Hal tersebut lantaran banyak masyarakat yang menjadikan wingkonya sebagai oleh-oleh untuk keluarganya yang berada di luar daerah, sehingga wingko yang diberi lebel Cap Dua Kelapa tersebut banyak diketahui dan disukai oleh masyarakat luas.  

“Kebanyakan yang beli dari luar daerah, kalau ke Tuban mampir kesini, kadang dibawa balik sampai ke Sumatera, ke Kalimantan, ke Malaysia juga, kadang juga orang Rengel atau mana beli disini dibawa ke mana-mana, terus orang yang sana main kesini mampir buat oleh-oleh, biasanya juga pesan dulu,” katanya. 

Hingga saat ini wingko buatan Reni hanya dijajakan di rumahnya saja, tidak dipasarkan ke toko-toko atau pasar, hal ini dikatakannya lantaran harganya tidak sesuai dengan bahan baku yang terus melonjak tajam. 

“Kalau di pasar itu minta harga yang murah, di saya nggak sampai harganya karena sekarang bahan baku naik semua, dan saya menggunakan bahan asli semua nggak ada bahan campuran apa-apa, dulu sebelum naik setor di Pasar Tuban saja bisa sampai 400 an biji,” bebernya. 

Karena menggunakan bahan alami, wingko-wingko milik Reni hanya bertahan kisaran 4 hari saja. Biasanya wingko tersebut dijual dengan harga kisaran Rp2 ribu hingga Rp40 ribu tergantung dengan ukuran yang diminta oleh para pelanggannya. 

Walaupun sudah banyak yang mengetahui produknya, hingga saat ini Reni mengaku bahwa kendala yang dialaminya ada pada cara pemasaran, karena ia tidak bisa mengikuti teknologi saat ini seperti halnya promosi melalui sosial media. 

“Saya bingung caranya bagaimana, terus ngirimnya ke sana juga bagaimana karena kalau makanan itu beda, sistem pembayarannya juga bagaimana saya nggak tahu, apa harus dibayar dimuka dulu atau bagaimana karena sekarang ini banyak penipuan,” ucapnya. 

Oleh karena itu, ia berharap jika ada masyarakat yang mau bekerjasama ikut serta memasarkan wingko-wingko buatannya. “Kalau ada yang mau memasarkan saya ya mau, nanti saya yang produksi harga dari saya berapa dan nanti dijual berapa sama orangnya terserah,” tutupnya. [sav/col]