Memantau Aktivitas Anak di Internet Mungkin Bukan Ide yang Baik

Reporter: -

blokTuban.com - Internet memang sebuah rimba belantara bagi yang tak memahaminya. Itu sebabnya para orangtua merasa perlu untuk memantau aktivitas anak-anaknya di dunia maya.

Walau begitu tantangan orangtua masa kini dalam pengawasan aktivitas buah hatinya dianggap lebih mudah.

Survei berskala besar di Amerika menunjukkan, generasi remaja di era digital ini justru memiliki "perilaku yang baik".

Misalnya saja mereka lebih sering berada di rumah, mungkin karena selalu terkoneksi dengan teman-temannya di media sosial, atau pun ketertarikan remaja di era ini terhadap perilaku berbahaya, seperti narkoba atau seks sebelum menikah, lebih rendah.

Walau begitu, tetap saja orangtua yang memiliki anak mulai besar selalu dilanda kecemasan. Salah satu yang menjadi momok adalah kecanduan gadget, melihat situs porno, atau melakukan sexting.

Psikolog Lisa Damour, mengatakan, kecemasan orangtua di era digital ini sebenarnya justru disebabkan mereka terlalu banyak tahu aktivitas anak-anaknya.

"Orangtua yang punya anak remaja mungkin paham anak-anaknya lebih lancar berkomunikasi dengan teman di media sosial," kata Damour.

Orangtua juga bisa melacak riwayat aktivitas anak di internet, membaca percakapan digitalnya, dan mengetahui dengan persis anaknya sedang dimana berkat bantuan GPS.

"Terlalu memantau anak di dunia digital seringkali justru membuat kita khawatir tentang mereka dan kurang menikmati hubungan dengan anak," katanya.

Dalam menimbang untung rugi dari pengawasan melekat terhadap anak, Damour mencontohkan penggunaan CT-scan seluruh tubuh.

Walau dokter tahu bahwa pemeriksaan CT-scan pada orang sehat bisa membantu mengetahui gejala awal suatu penyakit, tetapi badan berwenang seperti FDA melarangnya.

Alasannya, manfaat dari deteksi dini itu lebih kecil dari mudaratnya, berupa rasa cemas dan tes ini-itu yang berlebihan karena ingin memastikan semuanya aman.

"Jika kita ingin mengawasi anak di internet, kita juga perlu paham bahwa informasi itu bisa membuat kita cemas, salah mengerti, dan justru menyebabkan pertengkaran," katanya.

Dari pada diam-diam melakukan pengawasan, Damour menyarankan orangtua untuk membangun rasa percaya dengan anak remajanya.

"Memang tidak mudah, tapi bisa dicoba," katanya.

Sejak awal, orangtua bisa menjelaskan pada anak kelebihan dan kekurangan internet, termasuk sosial media. Sehingga mereka bisa lebih waspada. Tekankan pula bahwa anak bisa bertanya apa pun pada orangtua, tanpa harus dihakimi.

Lantas, bagaimana batasan mengawasi anak yang tepat? Menurut dia, tidak ada satu ukuran berlaku sama untuk setiap anak.

"Remaja yang berhati-hati dan bertanggung jawab, bisa saja menikmati aktivitas online lebih lama dibanding sebayanya yang impulsif di dunia nyata atau pun maya," katanya.

Remaja yang lebih sering memakai gawainya untuk melihat-lihat Pinterest mungkin pengawasannya bisa lebih kendur dibanding anak yang terobsesi dengan Snapchat.

Jadi, kembali lagi orangtua harus mengenali kepribadian anak-anaknya.

Tidak ada alat monitor orangtua secanggih apa pun yang bisa menggantikan hubungan komunikasi yang lancar, terbuka, dan saling percaya dengan anak-anaknya.

*Sumber: kompas.com