Angkat Bicara, SILOG Kisahkan Kronologi Versinya Sebagai Korban

Reporter: M. Anang Febri

blokTuban.com -‎ ‎Kejadian ambruknya jembatan penghubung antara Widang Kabupaten Tuban dengan Babat Lamongan, mengakibatkan korban jiwa dan tiga truk besar beserta satu sepeda motor ikut terjatuh ke dalam Sungai Bengawan Solo. Banyak pihak yang memiliki asumsi serta kronologi yang bermacam-macam. Namun, pihak Semen Indonesia Logistik (SILOG) dalam hal ini menceritakan kronologi versinya, Jumat (20/4/2018).

Pihak perwakilan SILOG melalui Arkham mengutarakan, dalam kejadian itu truk ekspedisi jarak pendek berikut sopir-sopirnya merupakan korban dalam peristiwa nahas tersebut.

"Di sini kita sebagai korban. Jika ditanya kronologi sebenarnya, saya sendiri tahu persis. Namun, setelah kita tanya sopir yang selamat itu, kita punya kronologi versi kita sendiri," beber Arkham kepada blokTuban.com.

Dikisahkannya, para truk yang menjadi korban jembatan Widang yang ambrol itu berangkat dari wilayah Gresik menuju ke Tuban. Sebelum sampai di Tuban, sopir berikut truk yang dipakai untuk mengangkut limbah B3 itu biasa berkumpul di warung pojok sebelah selatan jembatan untuk sekadar beristirahat, nongkron‎g, sarapan, ataupun melepas lelah sejenak.

"Mungkin pas lagi apes, nahas peristiwa itu menimpa," ungkapnya.

Arkham juga menambahkan, terdapat empat truk yang sebelumnya berjalan beriringan. Hal itu dimaksudkan supaya begitu sampai di lokasi, truk bisa pas dan tepat waktu‎, demi menunggu proses bongkar yang harus mengantre terlebih dahulu.

Satu truk lewat‎ dengan selamat. Satu truk lagi, bagian badan di belakang batas jembatan di sisi utara yang ambrol. Sedangkan dua truk langsung nyungsep bersama ambrolnya jembatan.

"Dari keterangan supir yang selamat itu, saya tanya. Truk putih mau nyalip ceritanya. Mungkin karena beban jembatan sudah tua, truk yang berada di ujung sana itu (truk kepala merah) mental‎ dan ikut ambruk juga," imbuhnya.

Sementara itu, ‎sambung Arkham, pihak sopir yang selamat mengaku tak melihat sepeda motor yang berada di depan ataupun sekitar truk, yang artinya pengendara sepeda motor yang berbonengan itu berada di belakang truk.

"Mau tanya tentang kendaraan dan seputaran pabrik, saya jawab. Tapi kalau tentang lain-lain terkait ambruknya jembatan‎, pihak BPBD, Polda dan Pemda lah yang berhak jawab. Kita di sini sebagai korban kok," pungkasnya dengan jelas. [feb/rom]