Ponpes Nurul Qur'an Bangilan Tampung Anak Jalanan

Reporter: Mochamad Nur Rofiq

blokTuban.com - Salah satu pondok pesantren yang dikelola Yayasan Nurul Qur'an Kedungjambangan, Bangilan, Tuban menampung anak-anak jalanan (Anjal) yang bertekad ingin merubah diri. Di pondok pesantren (Ponpes) Nurul Qur'an ini, mereka (Anjal) dididik ilmu dasar Alquran, Fiqih, Tauhid, Akhlaq dan Muamalah.

Pengasuh Ponpes Nurul Qur'an, Kiyai Sholikul Hadi kepada blokTuban.com mengatakan, Lillahi taala beliau ingin memberi perhatian dan memfasilitasi Anjal untuk mendapat hak pendidikan seperti anak-anak Indonesia lainnya. Untuk itu, ia juga berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban ikut membantu mensukseskan mendidik Anjal, karena terbatasnya anggaran pondok.

"Kalau tidak kita siapa lagi yang mau memikirkan mereka, dan sudah sepantasnya dididik ilmu agama sesuai Visi Misi Tuban," tutur kiyai kelahiran Blora, Jawa Tengah 54 tahun silam itu.

Dijelaskan alumni Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin, Sulang, Rembang 1996 itu, ingin memberi kesempatan orang yang mau berubah. Sebab, dia ingin apa yang sudah dimiliki bisa bermanfaat juga bagi orang lain.

Ditambahkan Abah Sholikul, begitu ia disapa, terkait kerja (ngamen) pihaknya masih memberi izin mereka (Anjal). Sebab pihak pondok juga belum bisa mencukupi total biaya hidup mereka.

"Untuk sementara kita gratiskan, namun ya makan seadanya ikut dalem," terang bapak tiga anak itu.

Disamping itu, ujar dia, kewajiban sebagai santri yang harus mengaji tepat waktu tetap ditekankan. Bahkan, pihak pondok juga memberi keleluasaan santri untuk buruh kerja di masyarakat. Karena hal itu, sebagai pendidikan mereka untuk bermasyarakat yang mungkin berbeda ketika hidup di jalanan.

"Selain ngaji, Anjal kita ajari bermasyarakat dengan warga sekitar," pungkasnya.

Dari pantauan blokTuban.com di lokasi pondok yang didirikan sekitar sepuluh tahun yang lalu itu, bermukim empat Anjal dari berbagai daerah. Mereka hampir satu bulan mengaji di pondok yang berasal dari Brebes, Cilacap, Juwana, dan Jatirogo.

Tidak ada bedanya dengan santri pada umumnya, mereka bersama kiyainya belajar kitab-kitab agama dengan penuh hikmat. Namun, segala aksesoris yang menjadi ciri khas mereka tetap melekat di tubuhnya, sambil menyesuaikan hidup di lingkungan pondok. [rof/rom]

anjal-1

anjal-2