Petani Sidohasri Terapkan Sistem Singgang

Reporter: Mochamad Nur Rofiq

blokTuban.com - Petani di Desa Sidohasri, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban memiliki inovasi lain untuk menambah hasil produksi padi, melalui metode singgang atau sistem satu kali tanam dua kali panen.

Dimana setelah panen pertama padi dibiarkan tumbuh, sehingga menghasilkan padi kembali. Metode Singgang tersebut diterapkan pada areal pertanian yang biasanya ditanam cabai habis panen pertama.

Salah satu petani, Lastri (50) mengungkapkan, sejatinya sistem satu kali tanam dua kali panen bukan hal yang aneh. Beberapa petani di desanya sudah pernah melakukan hal itu dan hasilnya cukup memuaskan.

"Karena kekhawatiran petani dengan cuaca yang tak menentu, diupayakan petani yang sawahnya masih ada sedikit air dapat menerapkan metode Singgang dan mereka berhasil," ungkap Lastri, kepada blokTuban.com, Rabu (8/6/2016).

Lanjut Lastri, padi singgang adalah tanaman padi sawah yang tumbuh setelah batang padi sisa panen dipangkas. Dari pemangkasan itu muncul tunas baru yang tidak lagi tergantung dengan batang pertama dengan akar sendiri.

Sunik (38) petani lain menambahkan, ia memilih metode Singgang lantaran dapat menghemat biaya produksi. Dengan demikian, pendapatan petani akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, karena pemangkasan ongkos produksi.

"Tidak ada biaya mengolah tanah, membeli bibit baru dan menyemai padi. Sehingga hasilnya meski tidak sama dengan panen pertama tetap menguntungkan,” pungkas Sunik.

Petani tidak lagi tergantung pada tanaman pertama. Kendati hasilnya tidak sama seperti panen pertama, tapi secara ekonomi hasil panennya juga menguntungkan. [rof/rom]