14:00 . Kemenpan RB Evaluasi Pelayanan Publik Polres Tuban   |   13:00 . BNI, Hara Dan Pemerintah Tuban Mencetak 1000 Agripreneur   |   12:00 . Di Depan Kemendikbud, DPRD Tuban Sampaikan Kekurangan 3.270 Guru SD-SMP   |   09:00 . Pendaftaran Online RSUD Koesma Error, Ternyata ini Sebabnya   |   07:00 . Masa Kecil Kurang Bahagia? Ini 4 Dampaknya saat Dewasa   |   18:00 . Hari Pertama Jambore Kwaran Gerakan Pramuka Soko   |   17:00 . 16 Besar Turnamen Bola Voli Piala Bupati Tuban Cup   |   16:00 . Analog PBT Serupa BSD Tanggerang, User Ingin Lihat Cetak Biru PT HK   |   15:00 . Hantam Truk Tronton Varia Usaha, Pemotor Meninggal di Jalanan Rengel-Bojonegoro   |   14:00 . Tandang Ke Jogja, Tim Persatu Diteror Oknum Diduga Suporter PSIM Yogyakarta?   |   11:00 . Kalah Lawan PSIM Jogja, Menajemen Persatu: Peluang Persatu Masih Terbuka Asalkan...   |   10:00 . User PBT Ditilap, Nasib Digantung   |   09:00 . Puluhan User PBT Geruduk Diskoperindag   |   08:00 . Festival Kirab Perahu di Ujung Timur Pesisir   |   07:00 . 10 Tanda Anak Mengalami Gangguan Kesehatan Mental   |  
Tue, 15 October 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Sunday, 30 June 2019 13:00

Mahasiswa Kurang Mampu Bidikmisi UT Terkena Pungutan Diknas?

Mahasiswa Kurang Mampu Bidikmisi UT Terkena Pungutan Diknas?

Reporter: Ali Imron

blokTuban.com - Kabar kurang sedap dari dunia pendidikan di Tuban. Sejumlah mahasiswa kurang mampu dikabarkan terkena pungutan oknum Dinas Pendidikan (Diknas) Tuban saat mencairkan beasiswa program Bidikmisi Universitas Terbuka (UT).

Informasi yang diterima blokTuban.com, Minggu (30/6/2019) pagi, ada sekitar 25 mahasiswa asal Tuban dan Bojonegoro yang terkena pungutan. Mereka berasal dari semester 4 Universitas Terbuka jurusan Administrasi Negara.

Salah satu mahasiswa UT asal Tuban, SK menjelaskan, nilai beasiswa bidikmisi untuk mahasiswa tidak mampu sebesar 4.150.000 untuk setiap satu semester. "Dari nilai itu, satu anak dipungut 600 ribu," jelas SK.

Mahasiswa lain, MF, juga mengungkapkan hal sama. Dia belum mengetahui peruntukan pungutan yang dibebankan kepada mahasiswa kurang mampu penerima beasiswa bidikmisi.

"Jadi yang semester 4 sekitar 25 anak itu semuanya dipungut 600 ribu. Semestinya satu anak bisa dapat 4,1 juta persemester karena untuk biaya hidup selama kuliah juga," terang MF.

Dikonfirmasi, Sekretaris Dinas Pendidikan, Witono, akan meminta informasi utuh dari Bidang Ketenagaan yang menangani bidikmisi mahasiswa ini.

"Kalau dipotong sepertinya tidak, karena uang langsung masuk ke rekening mahasiswa," jelas Witono.

Baca juga: [Kadisdik Beri Keterangan Berbeda Soal Pungutan]

Kalau apa, diduga uang itu dipergunakan untuk mendatangkan tutor, perjalanan dan berbagai keperluan lain. Selain itu, Witono berjanji akan memberikan informasi lebih detail mengenai kabar ini. [ali/ito]

Tag : Mahasiswa, bidikmisi, ut, tuban, diknas

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Monday, 15 July 2019 16:00

    blokTuban.com Resmi Terverifikasi Dewan Pers

    blokTuban.com Resmi Terverifikasi Dewan Pers Media blokTuban.com mulai Senin (15/7/2019) resmi terverifikasi administrasi di Dewan Pers. Hal ini membuktikan bahwa portal media online ini, produk beritanya terpercaya dan mencerdaskan publik....

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more