Refresing Bersama Kader Kesehatan Kecamatan Jenu

Reporter : Ali Imron

blokTuban.com - Puskesmas Jenu, Kabupaten Tuban menyelenggarakan kegiatan Refresing bersama Kader Kesehatan dari Desa Sugihwaras, Jenu, Sekardadi, Jenggolo, Suwalan, dan Rawasan. Masing-masing pos kesehatan mengirimkan dua perwakilan untuk kegiatan yang dilakukan bergelombang tiga hari dengan jumlah peserta 46 orang itu. 

Kepala Puskesmas Jenu, dr. Dede Kurniawati menjelaskan tujuan dari acara untuk memberikan pengarahan dan penyegaran tentang materi yang diberikan agar bisa ditularkan kepada masyarakat desanya. Tren masalah kesehatan yang ada di Kecamatan Jenu saat ini adalah masalah stunting atau kurang gizi kronis.

"Sehingga Puskesmas Jenu mempunyai inovasi “PATAS 1000 HARAPAN dan BBM” yang tujuannya yaitu untuk mengurangi angka stunting," ujar dr. Dede kepada blokTuban.com, Minggu (24/3/2019).

Dalam refresing tersebut, dr Dede mengawali dengan materi Promkes. Dilanjutkan pembagian dan penjelasan form survey PHBS rumah tangga yang akan dikakukan oleh kader kesehatan. 

Disambung materi Kesling, yaitu pemaparan Inovasi PETASAN (Peta Sasaran Sanitasi). Setiap kader kesehatan diminta membuat peta sasaran sanitasi untuk mengetahui rumah atau KK tiap RT yang tidak mempunyai jamban keluarga. 

"Peta tersebut akan digunakan sebagai data dasar puskesmas sehingga KK yang tidak mempunyai Jamban keluarga bisa terpantau oleh petugas kesehatan," terang perempuan ramah ini. 

Pemaparan materi gizi yaitu inovasi Puskesmas PATAS 1000 HARAPAN (Pantau Sasaran 1000 Hari Kehidupan). Pemantauan dimulai ketika ibu hamil, setelah bayi lahir dan sampai balita umur 2 tahun. Pemantauan dilakukan oleh bidan desa dan dibantu oleh kader kesehatan.

Selain itu, disampaikan pula cara mengukur tinggi badan, mengukur panjang badan dan menimbang berat badan secara benar yang akan dilakukan oleh kader kesehatan. Materi berikutnya yakni KIA-KB. Pemaparan inovasi BBM disampaikan Darsi (Ibu dan Bayi Terhindar Eklampsi), Marsini (Ibu Mahir Stimulasi Dini), dan Susanti (Pola Makan Pola Asuh dan Sanitasi). 

Inovasi tersebut untuk mengurangi kamatian ibu dan anak serta dapat mengurangi resiko anak dengan stunting atau kurang gizi kronis. Lebih dari itu, pemateri juga mengingatkan kembali kepada kader dengan kegiatan P4K (Perencanaan Persalinan dan pencegahan komplikasi) meliputi penempelan stiker ibu hamil dan penilaian skor puji rochjati. Penjelasan dan Pembagian form ibu hamil, form ibu nifas dan bayi dan form pemantauan balita yang kan digunakan kader kesehatan. 

Tak kalah pentingnya yaitu materi kesehatan jiwa. Stigma masyarakat terhadap orang dengan gaguan jiwa adalah pasien dengan gangguan jiwa dikucilkan, gangguan jiwa = Gila. Pasien dengan gangguan jiwa tidak boleh lagi disebut dengan gila tetapi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).

ODGJ adalah gangguan dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang termanifes dalam bentuk sekumpulangejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia. Tanda dan gejala gangguan jiwa adalah sedih berkepanjangan dalam waktu yang lama, sering marah tanpa sebab, berbicara atau terbawa sendiri, mengamuk, menyendiri, kesulitan mengorientasikan waktu, orang dan tempat. 

"Jumlah penderita ODGJ kecamatan jenu sebanyak 63 orang dan semua sudah berobat dengan teratur. Kader kesehatan dihimbau jiwa menemukan ODGJ baru harap melaporkan ke puskesmas," jelasnya. 

Kader kesehatan juga diimbau rutin menanggapi Mas Mas (Masukan Masyarakat). Penanggapan masukan masyarakat yang telah diberikan masyarakat meliputi, antrian di poli umum lama, aula Pertemuan sempit, area parkir yang tidak tertata rapi, kurang ramahnya petugas dalam pelayanan, dan acara pertemuan yang tidak tepat waktu. [ali/col]