20:00 . Meninggalnya KPPS Tuban Diduga Kuat Kelelahan   |   19:00 . Ketua DPRD Tuban : Pemilu Serentak Perlu Dikaji   |   18:00 . Sempat Pingsan, Anggota KPPS di Semanding Meninggal Dunia   |   17:00 . Beberapa Titik CCTV Akan Dipasang di Gudang Penyimpanan Surat Suara   |   16:00 . Kuliner Ekstrim Biawak, Begini yang Dirasakan Penggemar...   |   12:00 . Rekapitulasi Surat Suara Kecamatan Dijaga Ketat   |   11:00 . Hari Kartini, Pertamina Diskon Bright Gas Rp21.000   |   10:00 . Kamar Kejiwaan Khusus Caleg Gagal di RSUD Koesma Sepi   |   08:00 . Warisan Sejarah di Bumi Wali   |   07:00 . Siapa Saja yang Layak Diundang dalam Pernikahan Anda?   |   06:00 . Hari Kartini 2019, Ini Sejarah & Kutipan Inspiratifnya   |   18:00 . Heboh.....! Emak-emak Bakar Diri   |   17:00 . Stok Aman, Harga Bengkoang Mojomalang Selalu Stabil   |   16:00 . Cikal Bakal Warga Menilo di Makam Eyang Pendek   |   15:00 . Tanpa Didampingi Keluarga, Begini Kondisi SR di RSNU   |  
Mon, 22 April 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Tuesday, 29 January 2019 15:00

Nekat Produksi Arak Jawa, Seorang Residivis Asal Bektiharjo Ditangkap Polisi

Nekat Produksi Arak Jawa, Seorang Residivis Asal Bektiharjo Ditangkap Polisi

Reporter: Khoirul Huda

blokTuban.com - Tim Saber Miras Polsek Semanding, Polres Tuban kembali mengungkap kasus produksi arak jawa di  sebuah rumah di RT/01 RW/04 Dusun Krajan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Senin (28/1/2019) sore.

Dalam pengungkapan kasus itu, petugas berhasil menangkap pelaku bernama Jatmiko (38) seorang residivis warga RT/01 RW/04 Dusun Krajan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.

Kapolsek Semanding, AKP Desis Susilo mengatakan, dalam pengungkapan tempat produksi arak jawa itu petugas berhasil menangkap pelaku atau pemilik tempat produksi yang tidak lain merupakan pemain lama dan seorang residivis.

"Tersangka yang berhasil ditangkap merupakan pemain lama dan sudah 2 kali proses hukum," terang Kapolsek Semanding, AKP Desis Susilo.

Lebih lanjut, menurut keterangan dari pelaku, tempat produksi arak jawa miliknya telah berlangsung sekitar dua bulan dan sebelumnya fakum. Dan hasil produksi itu di ambil tengkulak dari Lamongan dengan harga Rp500 ribu per 1 dus isi 12 botol.

"Tengkulak pesan dengan kadar arak 40 persen, dalam 1 hari bisa memproduksi 36 botol atau 50 liter arak siap edar," tandasnya.

Dalam pengungkapan itu, petugas berhasil mengamankan, 1 Dandang, 3 Drum berisi  baceman atau 200 liter total 600 liter, 1 Kompor, 1 Gas LPG ukuran 3 Kg, 1 Gendung  warna merah alat saring, 1 drum berisi air pendingin, 2 (dua ) dus berisi arak atau 18 liter atau 36 liter dan 1 sirkulasi.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, pelaku dikenakan Pasal 135 jo Pasal 71(2) dan pasal 140 jo pasal 86(2) UU no 18 th 2012 tentang PANGAN atau Pasal 204 Ayat (1)  KUH Pidana.[hud/ito]

Tag : produksi, arak, tuban, semanding, bektiharjo

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 21 April 2019 08:00

    Warisan Sejarah di Bumi Wali

    Warisan Sejarah di Bumi Wali Di Tuban banyak sekali wahana wisata yang memang sudah menjadi tujuan para wisatwan domestik maupun non domestik. Namun, sebenarnya bagaimana sih sejarah wisata yang ada di ujung barat Provinsi Jawa...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more