Penulis: Sri Wiyono

blokTuban.com – Bagi para santri, hal terberat dalam kehidupan di pesantren adalah harus menghafal. Model ngaji sorogan, atau setoran hafalan pada Kiai atau pengasuh pesantrennya banyak ditakuti. Termasuk Zaid, tokoh santri kita ini.

Meski Zaid dikenal sebagai santri yang cerdas, namun berhadapan langsung dengan Kiai yang mengajar dia ngaji bukan hal yang gampang. Terlebih harus berhadapan langsung dengan Mbah Kiai, pemimpin pondok pesantren tempat Zaid mondok.

Meskipun sudah sepuh, namun untuk kitab-kitab tertentu masih dipegang langsung oleh Mbah Kiai. Salah satunya adalah pelajaran Nahwu dan Shorof. Pelajaran tata bahasa dan gramar bahasa Arab ini sebagai bekal santri untuk mahir berbahasa Arab dan membaca kitab kuning.

Untuk memudahkan santrinya memahami, mengerti dan menghafal pelajaran dari dua kitab itu, Mbah Kiai menyusun sendiri buku. Kalau di sekolah bisa disebut buku modul atau buku penunjang. Penjabarannya lebih simpel, mudah difahami dan lengkap.

Kitab itu dibuat dari kertas kuarto yang kemudian dijilid. Para santri yang mengendaki, bisa foto kopi kitab susunan Mbah Kiai tersebut. Dan, memang terbukti, dengan sarana kitab yang disusun Mbah Kiai itu, dua pelajaran yang mengandalkan hafalan itu mudah diterima santri.

Kitab itu, sebagai pendamping kitab-kitab Nahwu dan Shorof yang dari percetakan. Agar santrinya cepat memahami dan mahir, Mbah Kiai mewajibkan menghafal kitab yang disusunnya itu. Dan, setiap hari para santri harus menyetorkan hafalan atas pelajaran yang diterima kemarin.

Satu bahasan yang diterangkan Mbah Kiai hari ini, harus sudah dihafalkan besok paginya. Begitu terus setiap hari. Mbah Kiai membuka pintu ndalem setelah salat Subuh. Sebab, ngaji Nahwu-Shorof itu dilakukan di ndalem. Di ruang tamu ndalem.

Maka puluhan santri yang ingin setor hafalan harus menunggu giliran. Mereka satu persatu maju untuk menyetorkan hafalan. Bagi yang tidak hafal, mereka biasanya memilih barisan paling belakang, meski dengan resiko selesainya cukup lama.

Suatu hari, Zaid sedang banyak kegiatan. Selepas ngaji pagi, dia langsung menyimpan kitabnya. Lalu mandi dan berangkat sekolah. Ternyata, kegiatan di sekolah sangat padat, sehingga dia pulang sudah hampir magrib.

Padahal, malam hari jadwal ngajinya juga padat. Selesai ngaji sudah hampir larut malam. Badan yang lelah membuat Zaid ngantuk dan tidur. Dia lupa belum menghafal pelajaran dari Mbah Kiai yang harus dia setorkan besoknya.

Maka selepas Subuh saat waktunya ngaji, Zaid panik. Dia belum hafal pelajaran kemarin yang hari itu harus disetorkan. Ternyata, ketidaksiapan itu juga terjadi pada beberapa santri lain.

Berbagai alasan disampaikan. Ada yang bilang bahasannya terlalu sulit, sehingga sukar untuk dihafal. Maka, Zaid dan beberapa santri lain terlibat saling dorong agar santri lain dulu yang maju.

Zaid terus berusaha untuk mencari posisi paling belakang. Namun, dia kemudian disusul santri lain di belakangnya, di belakangnya, begitu terus sehingga terjadi keributan.

Ribut-ribut di luar ndalem didengar Mbah Kiai. Sehingga, Mbah Kiai lalu bersuara dari dalam.

‘’Siapa itu yang ribut-ribut. Jangan mengganggu temannya yang sedang hafalan,’’ ucap Mbah Kiai.

Mendengar itu, Zaid dan beberapa santri kembali ribut. Hanya, sekarang mereka saling menyalahkan sehingga sampai ditegur Mbah Kiai.

Nampaknya, Mbah Kiai mendengar lagi keributan itu. Maka, setelah santri yang di hadapannya selesai menyetor hafalannya, Mbah Kiai memanggil semua santri yang ribut-ribut itu.

‘’Ayo, ke sini semua. Siapa itu yang ribut di luar,’’ pinta Mbah Kiai.

Maka, Zaid dan dua santri lain masuk ndalem dengan muka ditekuk. Mereka malu pada Mbah Kiai. Sehingga semakin dalam mereka menunduk.

Bukan hanya itu yang membuat mereka menekuk wajah, tapi kekhawatiran untuk menyetor hafalan, sedangkan mereka belum hafal.

‘’Sudah hafal semua. Ayo dihafalkan di sini. Siapa dulu, ayo,’’ pinta Mbah Kiai.

Zaid dan dua santri temannya itu saling pandang. Tidak ada tanda-tanda siapa yang siap menghafal lebih dulu. Karena itu, mereka terus diam dan menunduk, Mbah Kiai faham.

‘’Kalau belum hafal, silakan dihafalkan di sini. Kalau belum fahal, tidak boleh keluar dulu,’’ kata Mbah Kiai.

Lalu Mbah Kiai memanggil santri lainnya, yang akan setor hafalan. Zaid dan dua santri temannya duduk bersila di pojok ruangan.

Sampai semua santri menyetor hafalannya, Zaid dan dua temannya masih menenggelamkan diri dalam kitab.

‘’Bagaimana, sudah hafal? Siapa dulu?’’ tanya Mbah Kiai.

Ketiganya tetap diam, karena ternyata mereka belum hafal. Maka, ketiganya harus bertahan di ndalem sampai hafal. Mbah Kiai meninggalkan mereka di ruang tamu.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan. Sebab, sampai menjelang Dhuhur Zaid dan dua santri lainnya baru keluar dari ndalem dengan wajah yang kusut. Hehehe....[*]

 

*Cerita berdasarkan kisah nyata yang dialami santri, dan ditulis serta diolah lagi oleh redaksi blokTuban.com