Kemewahan (Pemborosan) 

Oleh: Mochamad Nur Rofiq 

blokTuban.com - Kemewahan, apabila telah mendapat jalan yang leluasa menuju jiwa bangsa, maka hanyalah akan merusak bangsa itu. Kemewahan itu dapat menjadikan hina terhadap kejayaannya, mencabik-cabik kekayaannya, menjatuhkan kemuliannya dan menghancurkan hasil pembangunan bangsa. 

Orang-orang yang hidup mewah, biasanya akhlaqnya bejat. Hal itu disebabkan mereka banyak memiliki hal-hal yang menunjang kemewahan dan tersedia sarana-sarana yang mendorong mereka berbuat kefasikan dan melanggar hukum-hukum Allah. 

Kemewahan menjurus pada pemborosan, dan pemborosan mengarah pada kebangkrutan. Orang-orang yang suka kemewahan ialah orang-orang yang lemah akalnya, lemah tubuhnya, lemah cita-citanya, dan terbelakang cara berpikirnya. 

Mereka tidak mengerti arti hidup, kecuali senang-senang menuruti kemauan nafsu binatangnya dan memburu kelezatan seperti yang dirasakan binatang, makan, tidur dan berhubungan badan. 

Mereka enggan berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan berfikir tentang kemajuan Negara. Perkara yang baik mereka anggap mungkar. Kemungkaran mereka anggap sesuatu yang biasa dan kebaikan harus mereka kubur. Sedangkan kemaksiatan mereka sebarluaskan.

Apabila engkau menyerukan mereka untuk meringankan penderitaan orang-orang yang terkena bencana, mengeringkan air mata orang miskin karena menangis sebab kekurangan, dan mengorbankan harta untuk kelangsungan pendidikan orang-orang yang bodoh, maka tenggorokan mereka terasa seret. Tidak dapat menelan ludah. Memalingkan leher dan menggeleng-gelengkan kepala. 

Tetapi berbeda, apabila mereka dimintai sumbangan uang untuk pelaksanaan acara yang tidak terpuji dalam pandangan agama dan akal sehat, mereka pasti berlomba-lomba memenuhi ajakan dan seruan orang yang mengajaknya dengan cepat. Saking cepatnya, mereka itu ibarat anak panah yang melesat dari busur dan seperti putusan yang dikeluarkan yang harus dilaksanakan.

Tidak ada kerusakan yang merajalela di tengah-tengah bangsa atau masyarakat, kecuali orang-orang yang suka berfoya-foya itulah sebagai sumbernya. Tidak ada bencana yang melanda bangsa, melainkan merekalah yang menjadi penyebab atau virusnya. Dan tidak ada pelanggaran terhadap hukum Allah yang terjadi di tengah bangsa, melainkan merekalah orang orang yang suka kemewahan dan foya-foya sebagai dalang dan pelopornya.

Pada dasarnya, hati manusia itu cenderung menyukai kesenangan, hingga kesenangan itu menguasai hatinya. Kesenangan atau syahwat tidak pernah membiarkan lubang menuju hati, melainkan segara memasukinya dan tidak pula membiarkannya kesempatan luas, kecuali ia memenuhinya. 

Kesenangan itu selalu berusaha menundukkan hati manusia. Kegemaran menuruti hawa nafsu itu tidak lain, kecuali disebabkan kesukaan hidup mewah. Sebab kesukaan hidup mewah itu selalu mendorong seseorang untuk bebas leluasa menikmati hal-hal yang dirasa enak dan menuruti apa yang menjadi kesenangan hawa nafsunya serta memenuhi keinginan-keinginannya.

Apabila suatu bangsa terbiasa menuruti hawa nafsunya dan sibuk dengan kesenangan-kesenangan, meremehkan kepentingan-kepentingan bangsa adalah merupakan hal yang menopang kehidupannya, maka tidak lama lagi bangsa itu rusak dilanda oleh berbagai musibah yang tidak henti-hentinya menyelubungi mereka.

Perhatikanlah bangsa-bangsa yang telah silam, engkau pasti mengetahui bahwa kegemaran hidup mewah yang mereka lakukan, itulah yang telah membinasakan mereka. Sehingga dapat dijadikan pelajaran bagi generasi sesudahnya agar tidak suka hidup mewah.

Bangsa Romawi, Persi dan Arab misalkan, yang dulunya telah mencapai puncak kejayaan, telah jatuh disebabkan oleh kekuasaan mereka pada teman hidup dan runtuh disebabkan mereka selalu menuruti kemauan nafsunya. Memang, mungkin sekali sebabnya tercampur dengan sebab-sebab lain, yang mendorong pada kehancuran. Tetapi sebab yang paling utama di balik sebab-sebab lain itu tiada lain hanyalah kegemaran hidup mewah dan foya-foya.

Bandingkanlah sendiri bangsa terdahulu dengan ketiga bangsa tersebut. Lalu selidikilah, pasti diketahui bahwa penyakit gemar hidup mewah merupakan bibit dari segala penyakit yang membinasakan mereka.

Sekarang, bandingkanlah antara akhlak orang - orang pedalaman dengan akhlak orang kota. Bandingkanlah tubuh penduduk desa dengan tubuh penduduk kota. Lalu perhatikanlah kemuliaan jiwa, kesetiaan, keperwiraan, kemuliaan, keberanian, dan berbagai tingkah laku mulia orang-orang pedalaman dengan sikap dan tingkah laku orang-orang perkotaan. Pasti perbedaannya sangat mencolok. 

Sesudah itu apa yang menjadi sebab terjadi perbedaan itu? Kegemaran hidup mewah sajalah yang menyebabkan terjadi kebobrokan akhlak dan kerapuhan jasad orang orang perkotaan.

Dengan uraian di atas, bukannya pengarang kitab ini Syekh Musthafa Al-Ghalayani menyerukan kalian agar hidup seperti orang-orang pedesaan atau pedalaman. Tetapi menyerukan agar bangsa ini berakhlak seperti akhlak orang-orang pedalaman. 

Ia menyerukan, sebagai manusia agar menghindari adat istiadat atau tradisi yang tidak terpuji dan menjauhi tingkah laku yang bodoh dan meninggalkan kegemaran hidup mewah dan foya-foya. Kegemaran hidup mewah inilah yang menghilangkan perilaku yang mulia dan mewariskan perilaku yang hina. Hendaknya kita bersikap tengah-tengah, tidak terlalu royal dan tidak terlalu menghemat agar tidak menjadi kikir.

Wahai generasi muda waspadalah kalian semua terhadap kesenangan dan kemewahan yang selalu menggoda hati. Ibarat Serigala yang siap menerkam tubuhmu. 

Janganlah berakhlaq seperti akhlak orang-orang yang gemar hidup mewah dan foya-foya dan jangan pula bertingkah seperti tingkah laku orang-orang melampaui batas. Tujuannya agar kalian tidak tercatat sebagai golongan orang-orang yang telah jatuh. 

Dalam uraian tersebut mengandung beberapa pelajaran berharga buat kalian semua, apabila kalian semua mau memperhatikan. [rof/ono]