Wis Wayahe Kabeh Seduluran

Oleh Sri Wiyono

‘’Kabeh sedulur cah...kabeh makmur’’

Begitu salah seorang kawan berkomentar atas komentar kawan yang lain.

‘’Sing makmur, yo sing anggep dulur tok, sing ora dianggep dulur yo ora makmur,’’ sela kawan lainnya protes.

Entah atas dasar apa masing-masing kawan itu mengajukan argumennya. Tentang kemakmuran, masing-masing pihak akan membela yang menguntungkan baginya. Sementara yang tidak mendapat untung tentu akan mencela.

Saya teringat seminggu lalu, saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Tuban. Sudah menjadi kebiasaan Sang Presiden setiap kali kunjungan selalu membawa oleh-oleh, lalu dibagikan pada warga yang selalu menyambutnya.

Salah satu magnet dan strategi bagus untuk mengundang warga berkerumun datang. Memadati jalan-jalan yang bakal dilalui Sang Presiden. Barangkali, ini perlu ditiru para pejabat lain, atau orang-orang yang berkepentigan untuk menunjukkan betapa rakyat ‘cinta’padanya hehehe...

Dan, selama ini Jokowi memang menjadi magnet rakyat untuk mengerumuninya. Berbagai motivasi digendong rakyat yang berbondong-bondong mendatangi Jokowi tersebut.

Ada yang ingin sekadar melihat dari dekat wajah Sang Presiden, karena selama ini hanya melihat dari layar televisi. Ada yang penasaran seperti apa sih kegiatan Sang Presiden, padahal dia benci setengah mati pada sosok yang suka blusukan itu.

Sebagian besar begini alasanya : ingin mendapat suvenir atau oleh-oleh dari Sang Presiden. Maka, ketika warga mendapat suvenir itu dengan cara menang rebutan dengan warga lain dia bangga luar biasa. Padahal, secara tak sengaja sudah menyikut tetangganya. Meski dia sendiri juga menerima sikutan.

Atau ada yang menerima suvenir itu karena nasib. Tiba-tiba sebuah kaos melayang ke muka dia, atau ke bagian tubuhnya, sehingga mudah diraih. Karena suvenir-suvenir Sang Presiden itu dilempar-lemparkan begitu saja pada rakyat.

Yang mendapat suvenir bangga dan menilai Jokowi baik hati. Sebaliknya, yang tidak mendapat meski sudah sikut-sikutan akan menggerutu. Dia menilai Jokowi menyengsarakan rakyatnya hanya untuk hadiah yang tak seberapa. Nah loe...ternyata tinggal dari sudut mana memandang sebuah persoalan kan?

Sama seperti jargon di atas tersebut. Kabeh sedulur dan kabeh makmur, selalu dipelesetkan dengan sindiran, bagi mereka yang merasa belum makmur. Yang merasa makmur tentu akan membenarkan jargon tersebut.

Karena sudut pandangnya diri mereka sendiri. Tidak dari sudut segitiga sama kaki, segitiga sama sisi, apalagi sudut segitiga siku-siku hahaha...

‘’Saiki wis wayahe,’’

Tiba-tiba kawan lain yang sedari tadi diam bersemangat menyeletuk. Setelah diamati, teryata kawan tadi diam karena menunggu kopi panas yang dia tuang dalam lepek jadi anget-anget kuku. Lalu dia seruput. Energi kopi hitam itu mendadak menambah kekuatannya.

Seperti hape yang baterainya lemah mendapat colokan listrik. Kata-kata ‘wis wayahe’ itu meluncur deras dan kuat dari bibirnya.

‘’Ha..ha...ha...,’’

Dan, para jamaah ngopi itupun tergelak bersama. Ngopi disik Lur..ben waras....begitu kata-kata yang sering terucap untuk menggambarkan betapa ‘maha pentingnya’ ritual ngopi tersebut.

‘’NgoPiPahit wae jelas,’’ kawan lain menimpali.

‘’Sing penting kabeh sedulur,’’ yang lain tak mau kalah.

Aha...aroma kontestasi itu meluas ke mana-mana. Bahkan, sampai di jamaah ngopi tersebut. Perdebatan di grup media sosial, di jamaah tahlil, arisan ibu-ibu, bukan arisan bapak-bapak karena kalau arisan bapak-bapak dijamin pasti tidak akan jadi. Biarlah para bapak yang mengantar ibu-ibu arisan saja, sambil ngudut dan menghabiskan suguhannya hihihi...

Ya, perang saudara dalam pilgub Jawa Timur ini sungguh sangat seru. Masing-masing kubu pendukung mengunggulkan calon yang didukungnya. Kebaikan dan kelebihannya dibeber luas. Prestasinya, latar belakang pendidikan dan lain sebagainya.

Tujuannya satu, agar orang kepincut untuk memilihnya. Sudah bisa ditebak. Kawan saya yang ingin perempuan pujaannya kepincut dengan dia juga melakukan daya upaya koq. Agar seolah-olah punya mobil, setiap apel dibela-belani sewa mobil. Atau paling apes meminta antar teman lain yang punya mobil. Modus!

Tapi memang begitulah. Secara tidak langsung saudara seorganisasi perang tanding. Iya, saudara seorganisasi, karena maka mungkin saudara sekandung sedemikian banyaknya. Wong ibu para Kurawa saja hanya sanggup melahirkan 100 anak hehehe

Maka masing-masing pun menebar propaganda. Asal jangan sampai menyebar kebencian dan hoax lo. Saat ini polisi sedang getol kampanye antihoax. Bisa-bisa berurusan dengan pihak berwajib kalau nekat menyebar kebencian dan hoax.

Maka ketika sebuah induk organisasi seolah ‘menganiaya’ organisasi di bawahnya, ramai-ramai menjadi bahasan diskusi. Saling cakar kata pun terjadi. Ada yang mengunggah notulen rapat organisasi induk dengan badan otonomnya itu.

Meski kemudian ada klarifikasi dari salah satu pihak, bahwa notulen yang tersebar itu tak sesuai kondisi sebenarnya. Notulen itu berlebihan. Nah loe !

Kemudian ada juga yang membela, kenapa jika induk organisasinya boleh mendukung calon lain, sementara banomnya tidak boleh. Toh sama-sama yang didukung kader terbaik. Anak memilih dan mendukung ibunya sudah semestinya.

Kemudian jika ditambahi toh derajat ibu itu tiga tingkat di atas bapak. Maka semakin ramailah aura kontestasi tersebut. Bisa-bisa aroma persaingan itu menjalar sampai dalam rumah. Sang bapak punya pilihan sendiri, ibu juga punya pilihan pasti. Sang anak, kadang lebih rasional memandang dan persoalan dalam menentukan pilihan.

Baju mereka sama warnanya, induk organisasinya sama, tinggal satu rumah. Bahkan tidur satu ranjang, namun beda pilihan. Bisa? Banyak! Dan itulah yang saat ini sedang terjadi.

Luar biasa bau persaingan itu. Hanya, semua harus sadar, bahwa yang dilakukan itu hanyalah euforia. Hanya musiman. Sehingga ketika musim persaingan itu sudah lewat, ya kembali menjadi satu lagi. Sama seperti musim mangga, buah itu akan melimpah.

Namun, jika sedang tidak musim, mencari mangga sekecil kelereng pun sulit. Bagaimana kalau ada istri nyidam mangga, beli saja di toko atau minimarket? Di sana jual mangga meski tidak musim? Iya jual, juice mangga!

Nah, kalau persaingan itu, saking fanatiknya pada calon yang didukung, sampai gelut dengan saudara sendiri, gelut dengan orang serumah, pasti tidak lucu. Karena kontestasi itu pasti ada yang menang dan ada yang kalah.

Lalu, yang kalah kemudian memendam sakit terus menerus. Memendam marah seumur hidup pada calon yang menang lalu bagaimana. Padahal, calon yang menang itu yang didukung istrinya misalnya, mau apa? Mikir.... kata Cak Lontong dengan salam lempernya.

Maka ngunu yo ngunu nanging ojo ngunu, kata orang-orang tua dulu. Memang sih, kebanggaan dan kepuasan tersendiri jika mendukung pasangan calon apapun, lalu pasangan itu memenangkan pertarungan. Bangga.

Dan, sakitnya tuh nya di sini, kata remaja jaman now, saat jagonya kalah. Sama seperti kawan-kawan PMII Tuban dulu. Dalam kongres PMII di Medan yang menjagokan M.Hanif Dakhiri yang kini jadi menteri, dan ternyata dikalahkan oleh Nusron Wahid yang kini menjadi bawahan Hanif Dhakiri di kementerian. Sakit! Namun ternyata itu hanya sebuah proses untuk pendewasaan.

Karena itu, musim dukung mendukung ini kita anggap saja layaknya musim durian,rambutan atau buah musiman lainnya. Kita tidak akan bisa menikmati buah itu jika tidak bisa membelinya. Tidak bisa membeli jika tidak punya uang. Tidak punya uang kalau tidak berusaha dan bekerja. Artinya kita harus berusaha sendiri dan mengeluarkan keringat.

Kan bisa saja ada yang nraktir? Bisa sih. Tapi, kan hanya sesekali. Masak mau nraktir terus menerus. Apalagi yang tidak punya kepentingan. Kalau musim dukung mendukung seperti ini. Biasanya banyak orang berbaik hati dan rajin nraktir.

Sing penting saiki wis wayahe, juga kabeh sedulur dan mugo-mogo kabeh makmur. Jangan lupakan seduluran selawase, kekancan sak matine. Wallahu a’lam.(*)