Tradisi Pasan, Ngaji Tabaruk Di Bulan Ramadan (Bagian 1)

Ngaji pasan menjadi satu diantara aktivitas khusus yang ditemui ketika Ramadan. Istilah pasan dipergunakan untuk menyebut tradisi santri yang mengaji di pondok pesantren khusus di bulan puasa. Santri pasan, datang khusus ketika puasa, berbeda dengan santri mukim yang menetap di pondok pesantren.

Reporter: Mochamad Nur Rofiq

blokTuban.com – Bagi sebagian orang, istilah pasan mungkin menjadi hal asing. Tetapi bagi kaum santri itu tidak. Karena momen itu justru dinantikan dalam satu tahun sekali. Pasan, berasal dari bahasa jawa untuk menyebut aktivitas santri-santri yang datang ke pondok pesantren dan khusus mengaji selama bulan puasa.

Banyak kitab yang dipelajari para santri pasan. Pondok Pesantren Salaf Al-Mudzakiri, di Dusun Suwedang, Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, merupakan salah satu tempat yang menjadi jujugan santri pasan dari berbagai daerah.

“Ngaji pasan merupakan paket pembelajaran kitab-kitab Ulama Salaf Sholih yang dipelajari pada bulan puasa Ramadan,” terang Pengasuh Ponpes Al-Mudzakiri, M Rujhan, kepada blokTuban.com.

Beberapa kitab yang dipelajari juga khos atau khusus. Yaitu kitab-kitab tipis yang bisa dikhatamkan dalan kurun waktu tidak sampai 30 hari. Atau istilah umumnya ngaji kilat atau santri kilat.

"Biasanya tradisi pasan yang dipelajari kitab kuning berbagai tema, tergantung konsentrasi keilmuan dari masing-masing pesantren," tutur pria yang juga cucu dari KH. Abdus Syakur, ulama ternama di kawasan Jatirogo pada era 40 an itu.

Sejak kapan tradisi pasan ada di pesantren? Putra KH. Abdul Khoir itu mengaku, semenjak kecil sudah dikenalkan oleh keluarganya tentang tradisi pasan. Menurutnya, tradisi tersebut dibawa oleh ulama terdahulu dan dilanjutkan para kyai di pesantren. Di era kakeknyapun, kata dia, tradisi pasan sudah dilakukan.

 "Kakek saya meninggal di era 40an, sebelumnya pun sudah ada (tradisi pasan)," jelasnya ketika ditemui di pondoknya yang berada di timur perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah.

Awal bulan puasa biasanya Ponpes sudah kosong dari para santri yang biasa bermukim karena pulang ke kampung halaman. Saat itulah, tiba giliran para santri pasan datang ke Ponpes yang dituju. Selama sekitar 15 sampai 21 hari, biasanya kitab yang dikaji sudah khatam (selesai). Mereka kemudian kembali ke rumah atau kampung halaman dan tidak lagi tinggal di kawasan pondok pesantren.

Itulah perbedaan santri mukim dan santri pasan. Santri mukim akan kembali lagi ke pondok sesuai puasa dan lebaran untuk belajar sesuai kurikulum pesantren normal.

Dari waktu pembelajaran, juga berbeda. Santri pasan hanya belajar kitab khusus selama bulan puasa, sementara santri biasa akan belajar kitab sesuai kurikulum pesantren. Biasanya kurikulum pesantren membutuhkan waktu antara enam bulan sampai satu tahun untuk satu kitab.

Sistem belajarnya juga berbeda, ketika pasan santri hanya menyimak dan memaknai kitab yang diajarkan kiyainya. Namun jika kurikulum ngaji biasa, memakai sistem sorogan (santri membaca di simak oleh kiyai) atau sering disebut setoran.

Tradisi Pasan, Meneladani Sunah Nabi

Apa alasan pondok mengadakan tradisi pasan? Menurut Kiyai Rujhan, hal itu dilakukan mengikuti Sunah Nabi Muhammad SAW tentang menuntut ilmu di bulan Ramadan. Yang mana, melakukan satu kebaikan di bulan Ramadan sama pahalanya dengan melakukan ibadah fardhu di bulan selain Ramadan.

Hal senada juga diungkapkan seorang pengurus Pondok Pesantren Mansyaul Huda 02 (PPMH 02), Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Ustad M. Naim (26). Menurut ustad yang dulunya juga santri asal Kota Ledre, Bojonegoro itu menjelaskan, tradisi pasan bisa juga disebut Ngaji Tabaruk (menuntut ilmu di bulan penuh berkah).

Paket kurikulum yang dipelajari kitab-kitab kecil yang bisa khatam selama 17 hari. Terutama kitab yang mengajarkan tentang panduan hidup setiap harinya, semisal fikih, akhlaq, hadits, dan tafsir.

Ngaji pasan, selain menambah ilmu pengetahuan, juga dinilai sebagai ladang bagi para santri untuk ngalap (meraih) berkah dari kiyai khos. Mereka beranjak dari kebiasaan di rumah, maupun sekolah, bahkan menuju pondok pesantren lain untuk memperoleh berkah dari kiyai pilihannya.

"Santri biasanya memilih kiyai yang dianggap sepuh dan sanadnya jelas dari kiyai-kiyai sebelumnya," terangnya.

Di pesantren yang ia tempati itu, satu hari terdapat tujuh jam pelajaran yang dirangkum dalam kurikulum pasan. Waktu yang digunakan Balag Ramadan (Ngaji Ramadan) ketika selesai salat subuh, selesai salat duha, selesai salat dzuhur, menjelang buka, selesai salat tarawih, dan sebelum fajar.

Tradisi pasan, menurut dia adalah tradisi yang dilahirkan Ulama Salaf Sholih terdahulu. Kaum santri hanyalah ittiba' (mengikuti) karena sudah yakin jika mereka (ulama) memakai dasar-dasar keilmuan.

"Ngaji pasan adalah ngaji tabarukan, semoga setelah belajar secara singkat santri bisa mendapat berkah," pungkasnya. Bersambung.. [rof/rom]