Kapal Aman, Nelayan Nyaman, Melaut Terus Jalan

Reporter: Tim Infotorial

blokTuban.com - Terik matahari siang di tambat labuh sekitar tempat pelelangan ikan Desa Karangagung, Palang, Tuban terasa sangat menyengat di ubun-ubun. Beberapa nelayan yang menunggu kapalnya tiba, memilih berteduh di pos jaga. "Alhamdulillah Pak, sekarang ada pos ini. Kita bisa berteduh dan berkumpul dengan yang lain di sini," tutur Harto kepada wartawan. Pria yang sudah 30 tahun melaut ini merasakan perubahan setelah pos jaga nelayan dibangun di sana. "Pos ini baru dua bulan lalu selesai dibangun. Sudah lama kami membutuhkannya."

Dia menceritakan, sebelum ada pos itu, nelayan sering melaporkan kejadian kehilangan. Perahu dan barang-barang yang disimpan malam hari di sekitar lokasi tambat labuh sering raib dicuri. Kesal dengan pencurian yang sering terjadi, Harto sebagai ketua Rukun Nelayan, berinisiatif mencarikan solusi. "Saya mengadukan aspirasi para nelayan ke kepala desa," kisah dia. Gayung bersambut. Pihak desa mendapat dukungan dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Blok Cepu yang selama ini dikenal bermitra baik dengan masyarakat.

prahu

"Segera setelah itu kami bermusyawarah di balai desa untuk merencanakan pembangunannya," lanjut Harto. Kemudian warga membentuk tim pelaksana pembangunan (Timlak). Semua perencanaan dan penggunaan anggaran dikelola oleh timlak, termasuk pelaporannya. "Setelah selesai dibangun, warga berkumpul lagi di balai desa untuk laporan pertanggungjawabannya. Semua transparan," ucap pria kelahiran 50 tahun lalu itu, menjelaskan.
 
Selama menjadi bagian dari timlak, Harto mengaku mendapat pendampingan dari mitra Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang digandeng oleh EMCL. Dari situ juga dia dan warga lainnya belajar mengelola keuangan dan keorganisasian. "Kami diajari pembukuan, perencanaan pembangunan yang efisien, dan pengetahuan lain yang selama ini belum pernah kita dapat," kata dia.
 
Kepala Desa Karangagung, Murto mengatakan, bahwa warganya menerima banyak manfaat dari pembangunan pos tersebut. Keluhan mengenai kehilangan pun kini sudah mulai berkurang. "Sebetulnya bukan ini saja kontribusi EMCL kepada warga saya. Beberapa tahun yang lalu kami juga dibantu sebanyak dua bangunan tambat labuh, pemberian jaring penangkap ikan untuk nelayan, hingga tempat sampah, semua terasa manfaatnya," ujarnya. Sejak 2011, ungkap dia, EMCL juga memberikan berbagai program pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi. "Semua kontribusi kita terima dan manfaatkan dengan baik, warga antusias," imbuh dia.
 
Sementara itu, External Affairs Manager EMCL, Dave A. Seta memaparkan, semua program yang digulirkan tersebut direncanakan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan masyarakat, masukan dari pemerintah daerah dan atas persetujuan Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) sebagai pengatur industri hulu migas. "Kami juga senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar terjadi sinergi program, sehingga tidak tumpang tindih," jelasnya.
 
EMCL bersama mitra Blok Cepu: Pertamina EP Cepu dan Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu, tutur Dave, senantiasa menekankan program yang berkelanjutan. "Sebelum menggulirkan program, kami bermitra dengan LSM untuk melakukan penilaian kebutuhan masyarakat agar program tepat sasaran," tambah dia.
 
Di tahun ini saja EMCL sudah menyerahterimakan program infrastruktur untuk 15 desa dari tiga kecamatan di Kabupaten Tuban. Mulai dari pembangunan saluran irigasi, gedung sekolah, gedung karangtaruna dan PKK, perbaikan jalan, hingga fasilitas air bersih. "Desa-desa tersebut merupakan wilayah jalur pipa minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu," ungkap Dave. Melalui program ini, dia berharap taraf hidup masyarakat sekitar wilayah operasi EMCL dapat meningkat seiring dengan peningkatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.
 
Bagi EMCL, Tuban merupakan wilayah yang penting dalam proyek migas Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Pipa minyak milik negara dari Lapangan Banyuurip yang merupakan objek vital nasional melintang sepanjang 72 Km di jalur darat dan 23 Km di lepas pantai Tuban hingga kapal penyimpanan dan alir muat terapung (FSO) Gagak Rimang. "Kesuksesan proyek ini tak lepas dari dukungan masyarakat dan pemerintah serta sinergi yang baik selama ini," pungkas Dave. [mu]